Test and Measure, Evaluasi Perkuliahan Manajemen Stratejik
Dalam model Manajemen Stratejik setiap implementasi strategi harus selalu di ukur (test and measure) dengan sebuah evaluasi atau feedback sehingga bisa belajar mengenai keberhasilan atau kegagalan implementasinya. Test and measure harus menjadi sebuah standar perilaku sebenarnya. Karena apapun itu, mestinya kita belajar dari pengalaman. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik?
Salah satu ”kesenangan” yang saya harus jalani adalah memberikan pengajaran di salah satu kampus di Bogor, selain pekerjaan sebagai konsultan manajemen dan bisnis di sebuah consultant firm. Menjadi seorang pengajar, saya menyebutnya sebagai fasilitator, bukan hanya memberikan materi kuliah kemudian selesai, tetapi yang lebih penting agar terjadi proses pembelajaran di dalam kelas. Tidak mudah memang memberikan pengajaran kepada mahasiswa, apalagi dengan materi yang cukup banyak dan dibatasi oleh pertemuan yang singkat. Karenanya diperlukan teknik dan metoda tertentu agar terciptakan pembelajaran yang terbuka dan terjadi komunikasi 360 derajat, yakni komunikasi yang tidak hanya dua arah dengan fasilitator juga dengan sesama mahasiswa lainnya.
Di Neuro Linguistic Programming (NLP) dikatakan bahwa setiap orang itu memiliki preposisi mengenai ”peta” dari masing-masing orang yang di bawanya sebelumnya. Sangat sulit untuk menarik perhatian mahasiswa ketika di kelas. Secara fisik memang mereka hadir, namun terkadang tidak dibarengi dengan kehadiran ”awareness”nya. Sebab keberadaan mereka dilandasi oleh berbagai motivasi, mulai dari sekedar memenuhi syarat kehadiran, keterpaksaan mengambil mata kuliah tertentu, karena perkuliahan di jam ”ngantuk”, atau memang murni keinginan diri sendiri untuk belajar dan menguasai perkuliahan.
Saya mencoba menerapkan teknik dalam Turning Training into Learning dari bukunya Sheila W.Furjanic dan Laurie A. Trotman. Beberapa teknik yang bisa dipakai untuk menarik minat, antara lain disebutkan:
1. Menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan. Saya menyebutnya sebagai tujuan belajar itu bersenang-senang (fun). Tantangannya bagaimana menghadirkan ”fun” dikelas ? Saya menggunakan beberapa teknik ”ice breaking” dalam setiap pertemuan. Metoda ini sendiri banyak sekali macamnya.
2. Memberi kesempatan peserta untuk terlibat. Keterlibatan di kelas sangat penting untuk menjadi komunikasi dua arah dengan fasilitator dan dengan mahasiswa lainnya. Saya menggunakan ”tool” kartu bernilai, untuk menilai keatifan mereka di kelas. Membuat peserta untuk bergerak merupakan tantangan, padahal dengan bergereak maka myelin sebenarnya semakin terbentuk.
3. Pembentukan ”nilai-nilai budaya” perilaku. Saya memberlakukan beberapa aturan main mengenai kehadiran, termasuk mengenai penggunaan ”handphone” di dalam kelas.
Setelah berakhirnya sesi perkuliahan Manajemen Straterik semester genap kemarin, feedback mengenai jalannya perkuliahan dapat dilihat dari komentar mahasiswa sebagai berikut:
1. Komentar saya tentang evaluasi perkuliahan manajemen stratejik ini dari pertama kuliah sampai akhir kuliah, sangat baik dan dalam kuliah pun tidak tertlalu jenuh karena sering terjadi interaksi antara dosen dan mahasiswa.
2. Selama perkuliahan manajemen stratejik, saya merasa begitu nyaman dan penyampaiannya mudah diterima.
3. Cara mengajarnya menyenangkan tidak membuat jenuh.
4. Interaksi antara dosen dan mahasiswa lumayan dan kapabilitasnya cukup baik sebagai fasilitator
5. Cara belajarnya sangat nyaman dan menyenangkna membuat mahasiswa betah dikelas dan pengen belajar mata kuliah Bapak terus.
6. Cara penyajian pelajaran sangat bagus.
7. Terimakasih atas berbagi ilmunya semoga menjadi amal.
8. Mempertahankan metode belajar ini.
9. Pertahankan cara pengajaran yang selalu diawali obrolan dengan mahasiswa.
10. Selalu memberikan point.
11. Cara menyampaikan materinya saya rasa cukup. Hadir dikelas kadang-kadang tepat waktu.
12. Bapak disiplin waktu, nilai, dll. Bagus dalam menanyakan sesuatu materi dan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
13. Pokonya luar biasa dengan kurang dan lebihnya.
14. No comment
15. Penyampaian materi dengan baik, terutama dengan memutar video yang memiliki arti dan makna tersendiri.
16. Sering berinteraksi dengan mahasiswa dan memberikan contoh-contoh yang menarik sehingga mahasiswa tidak jenuh di dalam kelas.
17. Dalam penyampaian kuliah, melalui interaksi dengan mahasiswa/i cukup baik, sehingga tidak jenuh di dalam belajar
18. Interkasi dengan mahasiswa baik
19. Cara penyajian perkuliahannya cukup menyenangkan, serius tapi santai. Sehingga lebih mudah dimengerti dan serasa seperti training. Banyak dikasih motiasi.
20. Banyak tugas!
21. Untuk materi dan penyajiannya sangat baik. Interkasi dengan mahasiswapun baik.
22. Proses belajarnya sudah baik, karena setiap belajar/pertemuan ada review sehingga akan mengingatkan kembali tentang apa yang kita pelajari.
23. Tidak membosankan.
24. Saya sangat setuju dengan sistem Bapak yang memberikan nilai bagi yang bertanya, sehingga mahasiswa aktif baik yang bertanya maupun yang berkomentar.
(RP)












