25 December 2009 ~ 0 Comments

Perbedaan itu Kekuatan

Difference is power. Itulah makna dari diferensiasi yang diajarkan dalam ilmu marketing. Diferensiasi adalah bagian dari “strategi” pemasaran selain segmentasi dan targeting. Ilmu marketing mengajarkan menjadi berbeda “dibanding pesaing” adalah suatu strategi untuk memenangkan persaingan. Berbeda diperlukan untuk menjadi unggul (excellence) dibandingkan dengan kompetitor. No difference, no excellence !

Berbeda (diferensiasi) juga menjadi salah satu pilihan dari strategi generik Philip Kotler. Dalam strategi generiknya, Kotler menyajikan pilihan strategi untuk untuk memenangkan persaingan, yaitu menjadi beda (strategi pertama), memilih strategi berbiaya murah (strategi kedua) atau memilih fokus (strategi ketiga). Dalam hal ini ketiga strategi tersebut dapat diterapkan dalam kita bekerja. (… yang satu ini akan saya ulas lebih dalam berikutnya).

Namun berbeda saja tidak cukup. Berbeda yang tidak asal-asalan, apalagi asbed (asal beda, he2x…. akronimnya bener ga ya … dimirip2x-in dengan asbun). Alih-alih menginginkan unggul malah mendatangkan bumerang dan menjadi petaka yang merugikan. Perbedaan yang asbed tidak ada manfaatnya. Jadinya nyeleneh dan dianggap gila sama orang lain. Weit …. tapi kata pepatah only the paranoid survive !!. Jadi gimana dong ?

Berbeda bukan tujuan. Artinya menjadi berbeda itu bukan tujuan yang harus/ingin dicapai. Jika menginginkan unggul, sempurna, berkualitas dan memenangkan persaingan haruslah berbeda. Namun berbeda hanyalah alat untuk mencapai keunggulan. Hanya sebagai alat untuk transformasi. Berbeda hanyalah salah satu strategi. Perbedaan hanyalah jembatan untuk menuju tujuan diseberang sana.

Perbedaan juga merupakan jalan untuk berubah. Perbedaan akan membuat seseorang eksis, ada dan bahkan justru berkembang. Perbedaan juga menjadi stimulus bagi siapa saja yang ingin eksis, diakui, hidup dan berkembang. Pun kita sebagai karyawan, entrepreneur, bisnis, trainer, dokter, dan siapapun harus berbeda dengan yang sudah ada. Berbeda dengan rekan kita.

Perbedaan juga menciptakan sejarah. Orde baru berbeda dengan orde lama. Orde reformasi berbeda dengan orde baru. Penemuan, sejarah, rekor, award ada akibat dari adanya perbedaan. Siapapun yang ingin dikenang dalam sejarah, mendapat award dan rekor buatlah perbedaan.

Perbedaan sebenarnya sudah menjadi fitrah (hukum alam, sunatulloh), kenapa demikian ? Karena semua mahluk yang ada di dunia ini sudah berbeda. Tidak ada yang sama, persis, bahkan yang kembar siam sekalipun. Mirip mungkin iya. Faktanya setiap orang dilahirkan berbeda, namun faktanya juga tidak setiap orang melahirkan keunggulan, tidak melahirkan sejarah, tidak melahirkan award baik bagi dirinya maupun bagi organisasinya (lingkungannya).

Perbedaan hanyalah modal awal atau modal dasar. Perbedaan belum menjadi sumber keunggulan bersaing. Namun jika modal awal saja tidak disadari, maka selanjutnya mana mungkin menjadari keunggulannya. Paling tidak mulai sekarang … sadarilah bahwa kita mempunyai modal dasar yang luar biasa, yang dapat kita gunakan untuk bersaing. Jangan cemaskan persaingan, karena persaingan hanya terjadi ketika ada persamaan. Begitu merasa kita sudah sama dengan orang lain (kompetitor), rubahlah haluan untuk menjadi berbeda.

(bersambung)

Salam,

Roup Purohim
www.strategiaksi.com

Continue Reading

10 September 2009 ~ 0 Comments

Strategi : Segala sesuatu mungkin terjadi

Dalam model manajemen strategi, setelah visi (tujuan yang ingin diraih) ditetapkan,  tahap selanjutnya adalah memformulasikan strategi.  Strategi adalah “rencana main”, ia memberikan kerangka acuan untuk bertindak dan ia memberikan keputusan-keputusan rencana tindakan yang akan diambil.

Strategi dibuat untuk menentukan cara (how to) agar visi (impian) bisa diraih.  Formulasi strategi dibuat dengan memetakan kondisi internal dan ekternal.  Kondisi internal terdiri dari competency (pengetahuan dan keterampilan) yang dimiliki, resource dan capability.  Kondisi eksternal meliputi industri, pasar, pesaing dan faktor ekternal lainnya.  Hasil evaluasi tersebut akan menghasilkan strategi umum (grand strategi) dan strategi khusus (spesifik).  Semakin spesifik visi yang ingin dicapai, akan semakin mudah pula mengembangkan strateginya.  Formulasi seperti ini lazim digunakan dalam membuat formulasi strategi korporat.  Namun kenapa juga tidak digunakan untuk membuat formulasi kesuksesan pribadi ?

Dalam hal karir, bisnis dan kehidupan, strategi mengarahkan pergerakan menuju visi (impian) yang dicita-citakan.  Kita bisa saja memiliki semua sumberdaya penggerak dan strategi, namun tanpa strategi yang tepat, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kubik Leadership memberikan panduan dalam membuat strategi untuk mencapai visi (to be) pribadi.  Ada tiga pilihan alternatif strategi yang dapat digunakan.  Strategi pertama dengan menggunakan segenap kemampuan dan potensi yang kita miliki.  Kedua dengan memperbaiki cara hidup tertentu.  Atau strategi ketiga dengan menerapkan strategi pertama dan kedua secara bersamaan.

Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan setiap individu mahluk sebagai individu yang spesial.   DNA setiap individu memiliki kekhasan.  Tiap individu berbeda dengan individu lainnya.    Karena setiap individu berbeda, maka pasti tiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda.  Jangan khawatir kita tidak memiliki potensi atau kemampuan untuk meraih visi yang sudah ditetapkan.  Potensi kita sangatlah besar (powerhouse), tak tertandingi.  Jika kita bisa menemukan dan mengolahnya.   Kuncinya adalah apakah kita sudah menemukan powerhouse kita dan sudahkah kita bekerja sesuai dengan powerhouse yang  kita miliki ?

Sangat sedikit orang yang mendapatkan kesuksesan secara kebetulan.  Entah itu memenangkan perlombaan, meraih sebuah posisi atau keberhasilan bisnis.  Hampir semua hasil sebuah rancangan.  Sayangnya, hanya sedikit orang yang memiliki rancangan hidup.  Akhirnya jatuh dalam rancangan hidup orang lain.  Jika kita mengetahui persis secara spesifik apa yang inginkan, maka kita dapat memusatkan seluruh talenta dan energi yang kita miliki.  Seperti halnya sinar laser, walaupun sama dengan sinar lainnya akan tetapi sinar laser dapat memotong logam yang sangat keras.

Adam Khoo, mengatakan “rancanglah hidup anda, mulailah dengan membuat tujuan spesifik apa yang diinginkan, buatlah strateginya, segala sesuatu tinggal mungkin terjadi”.

Continue Reading

07 September 2009 ~ 0 Comments

Visi : Kemana kapal mau dilabuhkan

Apabila saat ini posisi kita sebagai karyawan, label apa yang akan kita lekatkan pada perusahaan tempat kita bekerja. Apakah perusahaan tersebut kita anggap sebagai segala-galanya tempat kita mengantungkan hidup kita. Atau sebagai kendaraan untuk menggapai masa depan dan kehidupan kita ? Pilihannya terserah kita.

Ada kisah mengenai kutu yang di hidup di bulu seekor anjing. Suatu ketika ada anak kutu yang berkata kepada ibunya. “Bu, seperti apakah anjing tersebut?”. Dengan penuh sayang ibu kutu berkata pada anaknya, “lho, kita kan hidup dan tinggal dibulu-bulunya. Apakah kamu tidak tahu nak?”. Mendengar jawaban tesebut dari ibunya, anak kutu masih belum puas. “Iya bu, saya tahu. Kita tinggal diatasnya dan setiap hari bersama anjing. Tetapi saya belum mengetahui bentuk anjing itu seperi apa”.

Karena anak kutu terus menerus bertanya, lama-lama ibunya kesal juga. Akhirnya untuk memenuhi keingintahuan anaknya, ditendangnya lah anak kutu, sehingga terlempar ke luar jauh dari tempatnya. Tepatnya terlempar ke lantai dan ke luar dari anjing bulu-bulu anjing. Setelah terlempar keluar, maka anak kutu dengan leluasa melihat kondisi anjing, dimana rumahnya berada di atasanya. Sungguh kaget dan bergembira melihat pemandangan yang selama ini menjadi bahan pertanyaannya. Kaget karena telihatlah anjing tua tempat tinggalnya selama ini adalah anjing yang buruk dan sedang sekarat. Bergembira karena dia mengetahui masa depan kehidupannya. Kemudaian anak kutu tersebut bergumam, “untunglah saya terlempar keluar, sehingga tidak ikut mati bersama anjing tersebut”.

Jangan sampai kehidupan karir kita di perusahaan kita bekerja saat ini kondisinya sama dengan anjing tua yang buruk dan sedang sekarat. Karena kita kuper, atau dengan alasan karena kita loyal kepada perusahaan, karena kita karyawan senior, karena kita senang dengan atmosfer kantor, karena kantor dekat dengan tempat tinggal kita, karena bos kita sangat baik, karena mau kenama lagi saya mencari kerja, dll. Karena alasan-alasan tersebut kita merasa nyaman atau menyamankan diri untuk hidup bersama dengan perusahaan tempat kita bekerja sekarang. Dengan segala alasan-alasan tersebut kita memutuskan untuk terus memilih hidup bersama dengan perusahaan sekarang, bagaimanapun kondisinya perusahaan tersebut. Sungguh berbahaya, jangan-jangan kita memilih tempat hidup yang sudah mulai mengalami kehancuran.

Mulai sekarang, risetlah tempat kita bekerja. Bagaimana kondisinya, bagaimana kehidupannya. Apakah masih layak kita hidup bersamanya ? Ambil strategi apa bila masih layak dan bagaimana jika tidak layak. Namun yang terpenting adalah bukan seberapa baik atau buruk kondisi sekarang kita bekerja, tetapi seberapa cepat perusahaan tempat kita bekerja menjadi jembatan penghubung terhadap impian atau visi hidup kita.

Brian Tracy mengatakan “tak peduli dari mana kita berasal, tetapi pedulilah kemana kita akan menuju”. Brian Tracy mengajarkan pedulilah pada kemana kita akan menuju. Kemana akan kita menuju berarti apa yang ingin kita raih atau miliki atau menjadi apa dalam hidup kita. Inilah yang disebut dengan visi atau impian atau “to be” (dalam istilah kubik leadership). Sudahkah kita perduli dengan masa depan kita kita dengan memiliki “to be” yang jelas ?

Continue Reading

30 August 2009 ~ 0 Comments

Strategi Aksi : Jalan mana yang kita pilih

Andaikan patung selamat datang Jakarta, yang berdiri megah, dikelilingi air mancur dan dilengkapi kerlip lampu warna-warni di kala malam dan menjadi salah satu ikon Jakarta itu sebagai diri kita. Kita berdiri disana sepanjang hari setiap tahun, kerjaanya hanya berdiri mematung dan menyaksikan apapun yang terjadi disekitar bundaran hotel Indonesia. Tentu kita bisa melihat, mendengar dan merasakan perubahan yang amat luarbiasa di sekeliling bundaran tersebut. Menjadi saksi setiap kejadian yang ada di sekitar bundaran Hotel Indonesia. Menjadi saksi setiap pembangunan yang terjadi di Jakarta. Menjadi pengamat lalu lalang mobil yang semakin hari semakin memadat. Terkadang menjadi tempat menyalurkan aspirasi masyarakat. Menjadi saksi pergantian rezim.

Sekarang Hotel Indonesia sudah berubah, Plaza Indonesia sudah berganti wajah, Jakarta sudah beganti-ganti beberapa gubernur dan sedangkan patung selamat datang dengan setia tetap berdiri mamatung menjadi penunggu tetap bundaran. Hari berganti hari tetap berdiri, hujan atau panas tetap menantang, lingkungan sekitar terus bergerak dan berubah. Tapi kita hanya diam, berdiri dan mamatung. Sementara umur semakin meranjak senja, kulit semakin mengkerut, pandangan sudah mulai kabur. Selalu ada ada perubahan disekeliling, tetapi kita hanya bisa diam berdiri mematung dan selalu tekaget-kaget begitu mendengar dan melihat perubahan disekeliling.

Eit, siapa bilang patung Jakarta tidak berubah ? Dia berubah, setiap tahun juga berubah. Selalu ada saja perbaikan, penggantian lampu taman, pembersihan kolam dan perawatan lainnya. Semakin hari semakin cantik, semakin menyenangkan dan memperindah bundaran hotel Indonesia. Tapi perubahan tersebut terjadi, hanya jika ada petugas yang datang dan membuatkan perbaikan atau perawatan. Patungnya tetap berdiri mematung dan menerima apa saja yang dilakukan oleh petugas yang merawatnya. Mau diberi hiasan lampu hijau boleh, diberi lampu sorot bisa, di hiasi air mancur yang meliuk tidak apa-apa. Dia hanya menerima saja, pasrah.

Apakah kita sama seperti patung selamat datang Jakarta ? Lingkungan dimana kita tinggal, disadari atau tidak selalu berubah. Diri kitapun berubah, tambah hari tambah pula usia kita. Lihatlah disekitar tempat tinggal kita, lihat kiri dan kanan perubahan selalu terjadi. Hadirnya tetangga baru, atau bahkan pergi meninggalkan kita. Dilingkungan kantor, berapa banyak teman kantor yang datang dan pergi silih berganti. Sementara kita, berdiri matung dan menjadi saksi perubahan disekitar kita.

Mungkin kita berubah, tetapi kita berubah hanya jika ada orang yang datang dan mengajak kita baru kita bergerak. Sama dengan patung selamat datang Jakarta, kita menyerahkan perubahan kepada orang lain. Kita menyerahkan perubahan diri kita kepada orang yang datang mengajak kita. Jika tidak ada yang mengajak, kita hanya diam, pasif dan berharap. Sadarkah kita mengenai hal ini ?

Apakah kita mau memiliki nasib yang sama seperti patung selamat datang Jakarta ? pasti tidak. Namun sudahkah kita memiliki rencana perubahan untuk diri kita ? Sudahkan kita memiliki blueprint kehidupan dan keluarga kita ?

Jika kita sebagai karyawan apa sikap kita pada perusahaan kita ? Perusahaan tempat kita bekerja kita pasti berubah setiap tahunnya, paling tidak target penjualannya yang naik setiap tahun. Namun apakah value kita akan naik seiring dengan naiknya target penjualan perusahaan ? Otomatiskah value kita naik begitu naik target penjualan perusahaan kita ?

Perusahaan pasti akan berubah. Namun percayalah, kebanyakan perusahaan hanya memikirkan perubahan dirinya. Jarang yang memiliki rencana perubahan bagi karyawannya. Sebagai karyawan, tentu kita tidak memilih berubah hanya jika perusahaan berubah. Tetapi kita memilih akan berubah (sendiri) tidak perduli perusahaan berubah atau tidak.

Continue Reading