15 July 2010 ~ 0 Comments

Test and Measure, Evaluasi Perkuliahan Manajemen Stratejik

Test and Measure, Evaluasi Perkuliahan Manajemen Stratejik

Dalam model Manajemen Stratejik setiap implementasi strategi harus selalu di ukur (test and measure) dengan sebuah evaluasi atau feedback sehingga  bisa belajar mengenai keberhasilan atau kegagalan implementasinya.  Test and measure harus menjadi sebuah standar perilaku sebenarnya.  Karena apapun itu, mestinya kita belajar dari pengalaman.  Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik?

Salah satu ”kesenangan” yang saya harus jalani adalah memberikan pengajaran di salah satu kampus di Bogor, selain pekerjaan sebagai konsultan manajemen dan bisnis di sebuah consultant firm.  Menjadi seorang pengajar, saya menyebutnya sebagai fasilitator, bukan hanya memberikan materi kuliah kemudian selesai, tetapi yang lebih penting agar terjadi proses pembelajaran di dalam kelas.  Tidak mudah memang memberikan pengajaran kepada mahasiswa, apalagi dengan materi yang cukup banyak dan dibatasi oleh pertemuan yang singkat.  Karenanya diperlukan teknik dan metoda tertentu agar terciptakan pembelajaran yang terbuka dan terjadi komunikasi 360 derajat,  yakni komunikasi yang tidak hanya dua arah dengan fasilitator juga dengan sesama mahasiswa lainnya.

Di Neuro Linguistic Programming (NLP) dikatakan bahwa setiap orang itu memiliki preposisi mengenai ”peta” dari masing-masing orang yang di bawanya sebelumnya.  Sangat sulit untuk menarik perhatian mahasiswa ketika di kelas.  Secara fisik memang mereka hadir, namun terkadang tidak dibarengi dengan kehadiran ”awareness”nya.   Sebab keberadaan mereka dilandasi oleh berbagai motivasi, mulai dari sekedar memenuhi syarat kehadiran, keterpaksaan mengambil mata kuliah tertentu, karena perkuliahan di jam ”ngantuk”, atau memang murni keinginan diri sendiri untuk belajar dan menguasai perkuliahan.

Saya mencoba menerapkan teknik dalam Turning Training into Learning dari bukunya Sheila W.Furjanic dan Laurie A. Trotman.  Beberapa teknik yang bisa dipakai untuk menarik minat, antara lain disebutkan:

1.  Menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan.   Saya menyebutnya sebagai tujuan belajar itu bersenang-senang (fun).  Tantangannya bagaimana menghadirkan ”fun” dikelas ?  Saya menggunakan beberapa teknik ”ice breaking” dalam setiap pertemuan.  Metoda ini sendiri banyak sekali macamnya.

2. Memberi kesempatan peserta untuk terlibat.  Keterlibatan di kelas sangat penting untuk menjadi komunikasi dua arah dengan fasilitator dan dengan mahasiswa lainnya.  Saya menggunakan ”tool” kartu bernilai, untuk menilai keatifan mereka di kelas.  Membuat peserta untuk bergerak merupakan tantangan, padahal dengan bergereak maka myelin sebenarnya semakin terbentuk.

3.  Pembentukan ”nilai-nilai budaya” perilaku.  Saya memberlakukan beberapa aturan main mengenai kehadiran, termasuk mengenai penggunaan ”handphone” di dalam kelas.

Setelah berakhirnya sesi perkuliahan Manajemen Straterik semester genap kemarin, feedback mengenai jalannya perkuliahan dapat dilihat dari komentar mahasiswa sebagai berikut:

1.    Komentar saya tentang evaluasi perkuliahan manajemen stratejik ini dari pertama kuliah sampai akhir kuliah, sangat baik dan dalam kuliah pun tidak tertlalu jenuh karena sering terjadi interaksi antara dosen dan mahasiswa.

2.    Selama perkuliahan manajemen stratejik, saya merasa begitu nyaman dan penyampaiannya mudah diterima.

3.    Cara mengajarnya menyenangkan tidak membuat jenuh.

4.    Interaksi antara dosen dan mahasiswa lumayan dan kapabilitasnya cukup baik sebagai fasilitator

5.    Cara belajarnya sangat nyaman dan menyenangkna membuat mahasiswa betah dikelas dan pengen belajar mata kuliah Bapak terus.

6.    Cara penyajian pelajaran sangat bagus.

7.    Terimakasih atas berbagi ilmunya semoga menjadi amal.

8.    Mempertahankan metode belajar ini.

9.    Pertahankan cara pengajaran yang selalu diawali obrolan dengan mahasiswa.

10.    Selalu memberikan point.

11.    Cara menyampaikan materinya saya rasa cukup.  Hadir dikelas kadang-kadang tepat waktu.

12.    Bapak disiplin waktu, nilai, dll.  Bagus dalam menanyakan sesuatu materi dan memberikan pertanyaan-pertanyaan.

13.    Pokonya luar biasa dengan kurang dan lebihnya.

14.    No comment

15.    Penyampaian materi dengan baik, terutama dengan memutar video yang memiliki arti dan makna tersendiri.

16.    Sering berinteraksi dengan mahasiswa dan memberikan contoh-contoh yang menarik sehingga mahasiswa tidak jenuh di dalam kelas.

17.    Dalam penyampaian kuliah, melalui interaksi dengan mahasiswa/i cukup baik, sehingga tidak jenuh di dalam belajar

18.    Interkasi dengan mahasiswa baik

19.    Cara penyajian perkuliahannya cukup menyenangkan, serius tapi santai.  Sehingga lebih mudah dimengerti dan serasa seperti training.  Banyak dikasih  motiasi.

20.    Banyak tugas!

21.    Untuk materi dan penyajiannya sangat baik.  Interkasi dengan mahasiswapun baik.

22.    Proses belajarnya sudah baik, karena setiap belajar/pertemuan ada review sehingga akan mengingatkan kembali tentang apa yang kita pelajari.

23.    Tidak membosankan.

24.    Saya sangat setuju dengan sistem Bapak yang memberikan nilai bagi yang bertanya, sehingga mahasiswa aktif baik yang bertanya maupun yang berkomentar.

(RP)

Continue Reading

23 June 2010 ~ 2 Comments

Resensi buku Myelin: Mobilitas Intangible Menjadi Kekuatan Perubahan

Resensi buku Myelin: Mobilitas Intangible Menjadi Kekuatan Perubahan

Dalam sebuah seminar, saya diajarkan untuk take action, miracle happen.  Hanya satu kegiatan yang harus kita lakukan action, action, action …. pokoknya action.  Karena action adalah langkah awal dari kekuatan mencapai impian.  Ternyata memang benar seperti itu.  Namun kebanyakan kita, kata action hanya sekedar jargon, dan kita tidak bisa langsung bertindak.  Malah menjadi NATO (no action, talk only).  Kenapa?

Dalam seminar yang lain yang membahas mengenai intelegensia, saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut.  Semua berawal dan bermula dari semenjak kita dalam kandungan yang kemudian dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita berada.  (Hmmm …topik ini pun cukup menarik untuk diangkat tersendiri …).   Dikatakan bahwa semua aktifitas kita dikendalikan oleh otak.  Otak pula yang selama ini menjadi konsen para pengembang pendidikan.  Maka jadilah semuanya mengandalkan otak.  Pendidikan berbasiskan pada otak.

Namun, dalam buku ini dikatakan bahwa orang yang pintar saja belum tentu sukses karena ada faktor lain yang menjunjang kesuksesan selain otak yaitu tindakan (action) yang dilakukan oleh otot kita.  Masalahnya kenapa otak dan otot menjadi tidak singkron.  Jawabannya adalah kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar otak kita (brain memory) tetapi juga seberapa tebal muscle memory kita.  Memori yang tersimpan dalam otot, itulah yang dinamakan disebut dalam buku ini sebagai Myelin.  Sebenarnya Myelin juga terdapat dalam otak, namun tebal tipisnya jaringan myelin itulah yang menentukan.  Myelin dalam otot kita akan semakin tebal, jika banyak dilatih.  Semakin banyak berlatih, semakin kita belajar untuk mencapai cara yang paling efektif.

Tidak ada sebuah kesuksesan yang diperoleh dengan mudah, santai, dan datang tiba-tiba.  Banyak sudah kita baca penemuan bola lampu dihasilkan dari ribuan kali percobaan.  Kesuksesan KFC menjadi restoran kelas dunia, dimulai dari penolakan ribuan kali.  Perjalanan 1.000 mil pun dimulai dari mil yang pertama, langkah pertama malah.

Kira-kira begitulah, pandangan saya mengenai buku ini.  Buku ini menjadi sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan gaya penulisan yang mengalir penuh cerita.   Buku Myelin: Mobilitas Intangible Menjadi Kekuatan Perubahan, merupakan buku ke-18 yang ditulis oleh Prof. Rhenal Kasali, Ph.D.  Saya meresensikan buku ini hanya bab 1-3 dari keseluruhannya 9 bab.  Selamat menikmati.

Dikatakan intangible melekat pada manusia, contohnya seperti seperti artis tua Susan Boyle, bintang-bintang sepak bola Brazil (dari Pele sampai Ronaldinho), dan Sei Ri Pak.  Intangible dibangun dalam diri manusia yang membentuk myelin, dan begitu internal intangible terbentuk, dibutuhkan jembatan intangible ke luar (external intangible).

Apa yang menyebabkan Susan Boyle untuk hadir dalam audisi Britain’s Got Talent ?  Susan menyadari bahwa dia harus mambangun jembatan dan melengkapi internal intangibles-nya (skill dan teknik bernyanyi yang prima) karena untuk menjadi penyanyi terkenal dan profesional memerlukan reputasi dan brand image.  Dimana reputasi dan brand image adalah elemen penting dari intangible.

Intangible juga dapat berada dalam perusahaan, melekat pada diri karyawan dalam bentuk ketetrampilan, kerjasama tim, tata nilai dan budaya perusahaan, reputasi serta teknologi.   Disisi lain intangible juga dapat berada di luar perusahaan, melekat pada brand image, customer loyalty dan dukungan.

Contohnya seperti pada perusahaan ISS (jasa integrated facility), Wika (konstruksi), Blue bird (jasa transportasi) dan Bank Mandiri (perbankan), yaitu bagaimana kondisi awal perusahaan-perusahaan tersebut, intangibelnya berhasil dibangun dan hasil yang mereka peroleh saat ini.

Ekplorasi pada konsep Manajemen Perubahan telah bermuara pada ilmu behavioral genetics yang merupakan perpaduan antara ilmu-ilmu perilaku (behavioral science) dan ilmu genetika.  Eksplorasi itu menunjukan bahwa untuk melakukan perubahan diperlukan adanya change DNA, yaitu cara berpikir yang bersifat terbuka atau dikenal dengan OCEAN (Openess to experience, Consciencetiousness, Extroversion, Agreeableness, Neuroticism).

Eksporasi selanjutnya adalah temuan baru dalam ilmu biologi yang telah menemukan sesuatu yang menghasilkan gerakan atau motoric dalam diri manusia.  Bahwa pemahaman mengenai change mindset saja tidak cukup efektif, nyatanya orang-orang yang mindset-nya telah berubah tidak bergerak dan hanya berwacana.

Ternyata kapasitas tambang intangible-lah yang menjadi penyebabnya.  Hanya mereka yang memiliki modal intangible lebih besar yang berhasil melakukan perubahan.  Mereka adalah orang-orang yang sel motoriknya telah terlatih. Seperti dalam entrepreneurship, yang berhasil memulai usaha biasanya hanya orang-orang yang memiliki karakter action oriented dan action oriented dimulai dari kebiasaan-kebiasaan berbergerak di lapangan yang menghasilkan myelin (muscle memory).

Lapisan myelin sendiri ditemukan oleh Rudolf Viechow pada tahun 1854.  Myelin berfungsi meningkatkan kecepatan arus informasi (dalam bentuk impulses) dan menyebarkan keseluruh jaringan otot.  Semakin tebal lapisan itu semakin efisien informasi beredar dan semakin cepat serta semakin otomatis manusia melakukan gerakan.

Apa yang membentuk myelin?  Para ahli mengemukakan bahwa latihan atau kegiatan yang berulang-ulang sehingga menubuhkan keterampilan adalah jawabannya.  Daniel Coyle dalam the Talent Code: Greatnes It’s Born It’s Grown.  Here’s Now (2009) memberikan rumus menarik, yaitu Deep practice x 10.000 hours = World Class Skill.  Hal ini juga sejalan dengan yang diungkapkan oleh Malcom Gladwell dalam Outliners: The Story of Success (2008) dengan formula yang disebut “Kaidah 10.000 jam”. (RP)

Continue Reading