07 September 2009 ~ 0 Comments

Visi : Kemana kapal mau dilabuhkan

Apabila saat ini posisi kita sebagai karyawan, label apa yang akan kita lekatkan pada perusahaan tempat kita bekerja. Apakah perusahaan tersebut kita anggap sebagai segala-galanya tempat kita mengantungkan hidup kita. Atau sebagai kendaraan untuk menggapai masa depan dan kehidupan kita ? Pilihannya terserah kita.

Ada kisah mengenai kutu yang di hidup di bulu seekor anjing. Suatu ketika ada anak kutu yang berkata kepada ibunya. “Bu, seperti apakah anjing tersebut?”. Dengan penuh sayang ibu kutu berkata pada anaknya, “lho, kita kan hidup dan tinggal dibulu-bulunya. Apakah kamu tidak tahu nak?”. Mendengar jawaban tesebut dari ibunya, anak kutu masih belum puas. “Iya bu, saya tahu. Kita tinggal diatasnya dan setiap hari bersama anjing. Tetapi saya belum mengetahui bentuk anjing itu seperi apa”.

Karena anak kutu terus menerus bertanya, lama-lama ibunya kesal juga. Akhirnya untuk memenuhi keingintahuan anaknya, ditendangnya lah anak kutu, sehingga terlempar ke luar jauh dari tempatnya. Tepatnya terlempar ke lantai dan ke luar dari anjing bulu-bulu anjing. Setelah terlempar keluar, maka anak kutu dengan leluasa melihat kondisi anjing, dimana rumahnya berada di atasanya. Sungguh kaget dan bergembira melihat pemandangan yang selama ini menjadi bahan pertanyaannya. Kaget karena telihatlah anjing tua tempat tinggalnya selama ini adalah anjing yang buruk dan sedang sekarat. Bergembira karena dia mengetahui masa depan kehidupannya. Kemudaian anak kutu tersebut bergumam, “untunglah saya terlempar keluar, sehingga tidak ikut mati bersama anjing tersebut”.

Jangan sampai kehidupan karir kita di perusahaan kita bekerja saat ini kondisinya sama dengan anjing tua yang buruk dan sedang sekarat. Karena kita kuper, atau dengan alasan karena kita loyal kepada perusahaan, karena kita karyawan senior, karena kita senang dengan atmosfer kantor, karena kantor dekat dengan tempat tinggal kita, karena bos kita sangat baik, karena mau kenama lagi saya mencari kerja, dll. Karena alasan-alasan tersebut kita merasa nyaman atau menyamankan diri untuk hidup bersama dengan perusahaan tempat kita bekerja sekarang. Dengan segala alasan-alasan tersebut kita memutuskan untuk terus memilih hidup bersama dengan perusahaan sekarang, bagaimanapun kondisinya perusahaan tersebut. Sungguh berbahaya, jangan-jangan kita memilih tempat hidup yang sudah mulai mengalami kehancuran.

Mulai sekarang, risetlah tempat kita bekerja. Bagaimana kondisinya, bagaimana kehidupannya. Apakah masih layak kita hidup bersamanya ? Ambil strategi apa bila masih layak dan bagaimana jika tidak layak. Namun yang terpenting adalah bukan seberapa baik atau buruk kondisi sekarang kita bekerja, tetapi seberapa cepat perusahaan tempat kita bekerja menjadi jembatan penghubung terhadap impian atau visi hidup kita.

Brian Tracy mengatakan “tak peduli dari mana kita berasal, tetapi pedulilah kemana kita akan menuju”. Brian Tracy mengajarkan pedulilah pada kemana kita akan menuju. Kemana akan kita menuju berarti apa yang ingin kita raih atau miliki atau menjadi apa dalam hidup kita. Inilah yang disebut dengan visi atau impian atau “to be” (dalam istilah kubik leadership). Sudahkah kita perduli dengan masa depan kita kita dengan memiliki “to be” yang jelas ?

Continue Reading