Strategi Aksi : Jalan mana yang kita pilih
Andaikan patung selamat datang Jakarta, yang berdiri megah, dikelilingi air mancur dan dilengkapi kerlip lampu warna-warni di kala malam dan menjadi salah satu ikon Jakarta itu sebagai diri kita. Kita berdiri disana sepanjang hari setiap tahun, kerjaanya hanya berdiri mematung dan menyaksikan apapun yang terjadi disekitar bundaran hotel Indonesia. Tentu kita bisa melihat, mendengar dan merasakan perubahan yang amat luarbiasa di sekeliling bundaran tersebut. Menjadi saksi setiap kejadian yang ada di sekitar bundaran Hotel Indonesia. Menjadi saksi setiap pembangunan yang terjadi di Jakarta. Menjadi pengamat lalu lalang mobil yang semakin hari semakin memadat. Terkadang menjadi tempat menyalurkan aspirasi masyarakat. Menjadi saksi pergantian rezim.
Sekarang Hotel Indonesia sudah berubah, Plaza Indonesia sudah berganti wajah, Jakarta sudah beganti-ganti beberapa gubernur dan sedangkan patung selamat datang dengan setia tetap berdiri mamatung menjadi penunggu tetap bundaran. Hari berganti hari tetap berdiri, hujan atau panas tetap menantang, lingkungan sekitar terus bergerak dan berubah. Tapi kita hanya diam, berdiri dan mamatung. Sementara umur semakin meranjak senja, kulit semakin mengkerut, pandangan sudah mulai kabur. Selalu ada ada perubahan disekeliling, tetapi kita hanya bisa diam berdiri mematung dan selalu tekaget-kaget begitu mendengar dan melihat perubahan disekeliling.
Eit, siapa bilang patung Jakarta tidak berubah ? Dia berubah, setiap tahun juga berubah. Selalu ada saja perbaikan, penggantian lampu taman, pembersihan kolam dan perawatan lainnya. Semakin hari semakin cantik, semakin menyenangkan dan memperindah bundaran hotel Indonesia. Tapi perubahan tersebut terjadi, hanya jika ada petugas yang datang dan membuatkan perbaikan atau perawatan. Patungnya tetap berdiri mematung dan menerima apa saja yang dilakukan oleh petugas yang merawatnya. Mau diberi hiasan lampu hijau boleh, diberi lampu sorot bisa, di hiasi air mancur yang meliuk tidak apa-apa. Dia hanya menerima saja, pasrah.
Apakah kita sama seperti patung selamat datang Jakarta ? Lingkungan dimana kita tinggal, disadari atau tidak selalu berubah. Diri kitapun berubah, tambah hari tambah pula usia kita. Lihatlah disekitar tempat tinggal kita, lihat kiri dan kanan perubahan selalu terjadi. Hadirnya tetangga baru, atau bahkan pergi meninggalkan kita. Dilingkungan kantor, berapa banyak teman kantor yang datang dan pergi silih berganti. Sementara kita, berdiri matung dan menjadi saksi perubahan disekitar kita.
Mungkin kita berubah, tetapi kita berubah hanya jika ada orang yang datang dan mengajak kita baru kita bergerak. Sama dengan patung selamat datang Jakarta, kita menyerahkan perubahan kepada orang lain. Kita menyerahkan perubahan diri kita kepada orang yang datang mengajak kita. Jika tidak ada yang mengajak, kita hanya diam, pasif dan berharap. Sadarkah kita mengenai hal ini ?
Apakah kita mau memiliki nasib yang sama seperti patung selamat datang Jakarta ? pasti tidak. Namun sudahkah kita memiliki rencana perubahan untuk diri kita ? Sudahkan kita memiliki blueprint kehidupan dan keluarga kita ?
Jika kita sebagai karyawan apa sikap kita pada perusahaan kita ? Perusahaan tempat kita bekerja kita pasti berubah setiap tahunnya, paling tidak target penjualannya yang naik setiap tahun. Namun apakah value kita akan naik seiring dengan naiknya target penjualan perusahaan ? Otomatiskah value kita naik begitu naik target penjualan perusahaan kita ?
Perusahaan pasti akan berubah. Namun percayalah, kebanyakan perusahaan hanya memikirkan perubahan dirinya. Jarang yang memiliki rencana perubahan bagi karyawannya. Sebagai karyawan, tentu kita tidak memilih berubah hanya jika perusahaan berubah. Tetapi kita memilih akan berubah (sendiri) tidak perduli perusahaan berubah atau tidak.

