<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Strategiaksi</title>
	<atom:link href="http://strategiaksi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://strategiaksi.com</link>
	<description>Semai impian - raih kesuksesan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Aug 2010 06:54:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Rhenald Kasali seorang Guru Inspiratif</title>
		<link>http://strategiaksi.com/rhenald-kasali-seorang-guru-inspiratif/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/rhenald-kasali-seorang-guru-inspiratif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 06:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Prof Rhenald]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Rhenald Kasali]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir satu tahun saya menjadi bagian dari &#8220;komunitas&#8221; perubahan.    Komunitas ini dipayungi oleh Yayasan dan PT Rumah Perubahan dimana Prof Rhenald Kasali sebagai founder sekaligus chairmannya.  Rumah Perubahan terdiri dari divisi Change Management Consulting (CMC-RP) &#8211; dimana saya menjadi salah satu insan di dalamnya &#8211; dan Rhenald Kasali School Entrepreneurs (RKSE).    Sebuah komunitas yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-86" href="http://strategiaksi.com/rhenald-kasali-seorang-guru-inspiratif/rhenald-kasali/"><img class="alignleft size-full wp-image-86" title="Rhenald Kasali" src="http://strategiaksi.com/wp-content/uploads/2010/08/Rhenald-Kasali.jpg" alt="" width="170" height="189" /></a>Sudah hampir satu tahun saya menjadi bagian dari &#8220;komunitas&#8221; perubahan.    Komunitas ini dipayungi oleh Yayasan dan <a title="Rumah Perubahan" href="http://www.rumahperubahan.com/">PT Rumah Perubahan</a> dimana Prof Rhenald Kasali sebagai <em>founder</em> sekaligus <em>chairma</em>nnya.  Rumah Perubahan terdiri dari divisi <em>Change Management Consulting</em> (CMC-RP) &#8211; dimana saya menjadi salah satu insan di dalamnya &#8211; dan <em>Rhenald Kasali School Entrepreneurs </em>(RKSE).    Sebuah komunitas yang memiliki misi perubahan untuk mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik.</p>
<p>Jauh sebelum bergabung dengan Rumah Perubahan, saya memimpikan untuk belajar langsung kepada Prof. Rhenald, dan impian itu menjadi kenyataan dengan cara yang sebelumnya tidak terpikirkan. Kali ini saya ingin <em>share</em> tulisan Prof Rhenal yang dimuat di <a title="Kompas" href="http://kompas.com/">Kompas</a> tanggal 9 Agustus 2007 mengenai guru inspiratif.  Karena saya juga adalah seorang pengajar dan secara pribadi merasakan bahwa beliau adalah guru inspiratif (<em>inspirational teacher</em>).   Tulisan ini juga bisa dibaca <a title="guru inspiratif" href="http://www.strategiaksi.com/go/rumahperubahan/">di sini</a>.  Selamat membaca.</p>
<div><strong>Guru Inspiratif</strong><br />
oleh: Rhenald Kasali, Ph.D</div>
<p>Dalam  hidup ini kita mengenal 2 jenis guru: guru kurikulum dan guru  inspiratif. Yang pertama sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa  bila tidak bisa mentransfer seluruh isi buku yang ditugaskan.  Ia  mengajarkan sesuatu yang <em>standard</em> (<em>habitual thinking</em>). Guru kurikulum  mewakili 99% seluruh guru yang saya temui.</p>
<p>Guru inspiratif jumlahnya  sangat terbatas, populasinya kurang dari 1%.  Ia bukan guru yang mengejar  kurikulum, melainkan yang mengajak murid-muridnya berpikir kreatif  (<em>maximum thinking</em>).  Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar  (<em>thinking out of box</em>), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali  keluar, ke masyarakat luas. Kalau guru kurikulum melahirkan  manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaharu  yang berani menghancurkan kebiasaan-kebiasaan lama.</p>
<p>Dunia  memerlukan dua-duanya seperti kita memadukan <em>validitas internal</em> (dijaga  oleh guru kurikulum) dengan <em>validitas eksternal</em> (yang dikuasai guru  inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan.  Tapi sayangnya sistem  sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum.  Keberadaan guru  inspiratif akan sangat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar  dari krisis.  Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit   suatu bangsa keluar dari kegelapan.</p>
<p><strong>Freedom Writers</strong><br />
Karya-karya pembaharuan, baik temuan-temuan spektakuler keilmuan,  produk-produk komersial, maupun gerakan-gerakan sosial akan tampak di  masyarakat.  Tetapi tak dapat dipungkiri semua itu berawal dari bangku  sekolah.  Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan  melihat perlunya kreativitas.  Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya  banyak orang tidak bisa diperbaiki, dan menghubungkan hal-hal yang tidak  terhubung (<em>connecting the unconnected</em>).</p>
<p>Kisah dan karya guru  inspiratif antara lain dapat dilihat dalam diri Erin Gruwell, guru  perempuan yang ditempatkan di sebuah kelas “bodoh”, yang murid-muridnya  sering terlibat kekerasan antar geng.  Berbeda dengan kelas sebelah yang  merupakan kumpulan “<em>honors students</em>”, yang memiliki DNA pintar dan  disiplin.  Di <em>honors class</em> yang dibutuhkan adalah guru kurikulum.</p>
<p>Erin  memulainya dengan segala kesulitan.  Selain katanya “bodoh” dan tidak  disiplin, mereka banyak melawan, terlibat kekerasan antargeng, saling  melecehkan, tempramen, dan selalu rusuh.  Di pinggang anak-anak SMA ini  hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam  dan membunuh.</p>
<p>Kelas itu adalah kelas buangan. Bagi para guru  kurikulum, anak-anak super nakal tak boleh disekolahkan bersama-sama  distinguised scholars.  Tetapi Erin tak putus asa, Ia membuat  “kurikulum”-nya sendiri. Kurikulum itu bukan berisi ajaran-ajaran  pengetahuan biasa (<em>hard skill</em>), melainkan pengetahuan hidup.</p>
<p>Ia mulai  dengan sebuah permainan (<em>line games</em>) dengan menarik sebuah garis merah  di lantai dan membagi mereka ke dalam dua kelompok di kiri dan di kanan.   Kalau menjawab “ya” mereka harus mendekati garis.  Dimulai dengan  pertanyaan-pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai  keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada  teman yang mati akibat kekerasan antar geng.</p>
<p><em>Line games</em> menyatukan  anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib.  Sama-sama  was-was, hidup penuh ancaman, curiga pada kelompok lain dan tak punya  masa depan.  Mereka mulai bisa lebih relax terhadap guru dan  teman-temannya dan sepakat saling memperbaharui hubungan.  Setelah  berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne  Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi, sampai buku harian.  Anak-anak  diminta menulis kisah hidupnya, apa saja.  Mereka menulis bebas.   Karya-karya mereka disatukan, dan diberi judul <a title="www.freedomwriters.com" href="http://freedomwriters.com/"><em>Freedom Writers (FW)</em></a>.   Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang  menjadi pelaku-pelaku perubahan di masyarakat.  Kisah guru inspiratif dan  perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film FW  yang dibintangi <a title="Hilary Swank" href="id.wikipedia.org/wiki/Hilary_Swank">Hilary Swank.</a></p>
<p><strong>Keluar dari Belenggu</strong><br />
Apa  yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia  pendidikan dasar saja, melainkan juga pada pendidikan tinggi.  Namun  entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita semakin mengisolasi  dirinya dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang  terbelenggu oleh kurikulum.</p>
<p>Yang disebut dosen teladan adalah dosen  yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal  tertentu yang sudah ditentukan (meskipun pembacanya belum tentu  memadai), dan rajin mengisi absen.  Dengarlah protes Kazuo Murakami.,  Ph.D, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan  dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007).  Ia terpaksa hijrah  ke Amerika saat menyaksikan dominasi guru-guru kurikulum di Jepang yang  membangun benteng hirarki.  Universitas, katanya, telah menjadi menara  gading yang tak perduli dengan apa yang telah terjadi di luar.</p>
<p>Meski  belum begitu menonjol dalam masyarakat kita, peranan guru-guru  inspiratif ini sangat dibutuhkan.  Terlebih anggaran pendidikan kita  masih sangat terbatas, dan lulusan-lulusannya banyak yang tidak bisa  bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya.  Kita tidak bisa  mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara  akademis, tahu kebenaran internal, tapi kurang kreatif mendulang  kesempatan dan buta kebenaran eksternal.</p>
<p>Ada 2 masalah yang perlu  kita renungkan disini. Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk  kompetensi (<em>student’s ability</em>). Ia hanya membentuk beberapa orang, untuk  kepentingan orang itu sendiri.  Sedangkan guru inspiratif membentuk  bukan hanya satu atau sekelompok orang, melainkan ribuan orang.  Satu  orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap  kalimat “Aku ingin jadi seperti dia” atau “Aku bisa lebih hebat lagi”.</p>
<p>Kedua,  ketidakmampuan para pendidik merespons tekanan-tekanan eksternal, dapat  membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci  kurikulum secara sakral.  Setiap upaya yang dilakukan guru-guru kreatif  untuk meremajakannya dianggap sebagai ancaman, bahkan dianggap sebagai  perbuatan tidak bermoral.  Saya masih ingat betul, kejadian yang  menimpa seorang guru inspiratif yang sangat saya kenal.  Pada tahun 2005  Ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas  karya-karyanya dalam bidang pendidikan.  Penghargaan serupa dalam  masing-masing bidang saat itu juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya  Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Tapi tak banyak yang tahu  hari-hari itu Ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap  melanggar “kurikulum”.  Kesalahannya adalah telah memperbaharui metode  pengajaran agar murid-muridnya menjadi lebih artikulatif.  Muridnya  senang belum berarti guru-guru lain senang.  Mereka merasa terganggu  oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini  ditarik.  Semester berikutnya namanya dicoret dari daftar pengajar. Karir  gurubesarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan  kaca pembesar menguji kebenaran internal.</p>
<p>Kata Jagdish N. Sheth,  begitu orang-orang lama menyangkal realita baru, maka mereka dapat  menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya  nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial.  Prilaku  internal itu adalah belenggu innertia, yang disebutnya sebagai  destructive habits.  Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar  hal-hal kecil yang tidak dimilikinya.</p>
<p>Sudah saatnya benteng  <em>innertia</em> seperti ini dihapuskan dengan “memanusiawikan” kurikulum dengan  memberi ruang yang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.  (RP)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/rhenald-kasali-seorang-guru-inspiratif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Test and Measure, Evaluasi Perkuliahan Manajemen Stratejik</title>
		<link>http://strategiaksi.com/test-and-measure-evaluasi-perkuliahan-manajemen-stratejik/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/test-and-measure-evaluasi-perkuliahan-manajemen-stratejik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 02:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Evaluasi strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Feedback]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen stratejik]]></category>
		<category><![CDATA[Myelin]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Dalam model Manajemen Stratejik setiap implementasi strategi harus selalu di ukur (test and measure) dengan sebuah evaluasi atau feedback sehingga  bisa belajar mengenai keberhasilan atau kegagalan implementasinya.  Test and measure harus menjadi sebuah standar perilaku sebenarnya.  Karena apapun itu, mestinya kita belajar dari pengalaman.  Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Salah satu ”kesenangan” yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-78" href="http://strategiaksi.com/test-and-measure-evaluasi-perkuliahan-manajemen-stratejik/2tumb/"><img class="alignleft size-full wp-image-78" title="2tumb" src="http://strategiaksi.com/wp-content/uploads/2010/07/2tumb.jpg" alt="" width="125" height="86" /></a>Dalam model Manajemen Stratejik setiap implementasi strategi harus selalu di ukur (test and measure) dengan sebuah evaluasi atau <em>feedback</em> sehingga  bisa belajar mengenai keberhasilan atau kegagalan implementasinya.  <em>Test and measure</em> harus menjadi sebuah standar perilaku sebenarnya.  Karena apapun itu, mestinya kita belajar dari pengalaman.  Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik?</p>
<p>Salah satu ”kesenangan” yang saya harus jalani adalah memberikan pengajaran di salah satu <a title="STIE KESATUAN" href="http://www.stiekesatuan.ac.id">kampus</a> di Bogor, selain pekerjaan sebagai konsultan manajemen dan bisnis di sebuah <a title="Change Management Consulting" href="http://www.rumahperubahan.com">consultant firm</a>.  Menjadi seorang pengajar, saya menyebutnya sebagai fasilitator, bukan hanya memberikan materi kuliah kemudian selesai, tetapi yang lebih penting agar terjadi proses pembelajaran di dalam kelas.  Tidak mudah memang memberikan pengajaran kepada mahasiswa, apalagi dengan materi yang cukup banyak dan dibatasi oleh pertemuan yang singkat.  Karenanya diperlukan teknik dan metoda tertentu agar terciptakan pembelajaran yang terbuka dan terjadi komunikasi 360 derajat,  yakni komunikasi yang tidak hanya dua arah dengan fasilitator juga dengan sesama mahasiswa lainnya.</p>
<p>Di <em>Neuro Linguistic Programming</em> (NLP) dikatakan bahwa setiap orang itu memiliki preposisi mengenai ”peta” dari masing-masing orang yang di bawanya sebelumnya.  Sangat sulit untuk menarik perhatian mahasiswa ketika di kelas.  Secara fisik memang mereka hadir, namun terkadang tidak dibarengi dengan kehadiran ”<em>awareness</em>”nya.   Sebab keberadaan mereka dilandasi oleh berbagai motivasi, mulai dari sekedar memenuhi syarat kehadiran, keterpaksaan mengambil mata kuliah tertentu, karena perkuliahan di jam ”ngantuk”, atau memang murni keinginan diri sendiri untuk belajar dan menguasai perkuliahan.</p>
<p>Saya mencoba menerapkan teknik dalam <em>Turning Training into Learning</em> dari bukunya Sheila W.Furjanic dan Laurie A. Trotman.  Beberapa teknik yang bisa dipakai untuk menarik minat, antara lain disebutkan:</p>
<p>1.  Menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan.   Saya menyebutnya sebagai tujuan belajar itu bersenang-senang (fun).  Tantangannya bagaimana menghadirkan ”fun” dikelas ?  Saya menggunakan beberapa teknik ”i<em>ce breaking</em>” dalam setiap pertemuan.  Metoda ini sendiri banyak sekali macamnya.</p>
<p>2. Memberi kesempatan peserta untuk terlibat.  Keterlibatan di kelas sangat penting untuk menjadi komunikasi dua arah dengan fasilitator dan dengan mahasiswa lainnya.  Saya menggunakan ”<em>tool</em>” kartu bernilai, untuk menilai keatifan mereka di kelas.  Membuat peserta untuk bergerak merupakan tantangan, padahal dengan bergereak maka <a title="Myelin" href="http://strategiaksi.com/resensi-buku-myelin-mobilitas-intangible-menjadi-kekuatan-perubahan/">myelin</a> sebenarnya semakin terbentuk.</p>
<p>3.  Pembentukan ”nilai-nilai budaya” perilaku.  Saya memberlakukan beberapa aturan main mengenai kehadiran, termasuk mengenai penggunaan ”handphone” di dalam kelas.</p>
<p>Setelah berakhirnya sesi perkuliahan Manajemen Straterik semester genap kemarin, <em>feedback</em> mengenai jalannya perkuliahan dapat dilihat dari komentar mahasiswa sebagai berikut:</p>
<p>1.    Komentar saya tentang evaluasi perkuliahan manajemen stratejik ini dari pertama kuliah sampai akhir kuliah, sangat baik dan dalam kuliah pun tidak tertlalu jenuh karena sering terjadi interaksi antara dosen dan mahasiswa.</p>
<p>2.    Selama perkuliahan manajemen stratejik, saya merasa begitu nyaman dan penyampaiannya mudah diterima.</p>
<p>3.    Cara mengajarnya menyenangkan tidak membuat jenuh.</p>
<p>4.    Interaksi antara dosen dan mahasiswa lumayan dan kapabilitasnya cukup baik sebagai fasilitator</p>
<p>5.    Cara belajarnya sangat nyaman dan menyenangkna membuat mahasiswa betah dikelas dan pengen belajar mata kuliah Bapak terus.</p>
<p>6.    Cara penyajian pelajaran sangat bagus.</p>
<p>7.    Terimakasih atas berbagi ilmunya semoga menjadi amal.</p>
<p>8.    Mempertahankan metode belajar ini.</p>
<p>9.    Pertahankan cara pengajaran yang selalu diawali obrolan dengan mahasiswa.</p>
<p>10.    Selalu memberikan point.</p>
<p>11.    Cara menyampaikan materinya saya rasa cukup.  Hadir dikelas kadang-kadang tepat waktu.</p>
<p>12.    Bapak disiplin waktu, nilai, dll.  Bagus dalam menanyakan sesuatu materi dan memberikan pertanyaan-pertanyaan.</p>
<p>13.    Pokonya luar biasa dengan kurang dan lebihnya.</p>
<p>14.    No comment</p>
<p>15.    Penyampaian materi dengan baik, terutama dengan memutar video yang memiliki arti dan makna tersendiri.</p>
<p>16.    Sering berinteraksi dengan mahasiswa dan memberikan contoh-contoh yang menarik sehingga mahasiswa tidak jenuh di dalam kelas.</p>
<p>17.    Dalam penyampaian kuliah, melalui interaksi dengan mahasiswa/i cukup baik, sehingga tidak jenuh di dalam belajar</p>
<p>18.    Interkasi dengan mahasiswa baik</p>
<p>19.    Cara penyajian perkuliahannya cukup menyenangkan, serius tapi santai.  Sehingga lebih mudah dimengerti dan serasa seperti training.  Banyak dikasih  motiasi.</p>
<p>20.    Banyak tugas!</p>
<p>21.    Untuk materi dan penyajiannya sangat baik.  Interkasi dengan mahasiswapun baik.</p>
<p>22.    Proses belajarnya sudah baik, karena setiap belajar/pertemuan ada review sehingga akan mengingatkan kembali tentang apa yang kita pelajari.</p>
<p>23.    Tidak membosankan.</p>
<p>24.    Saya sangat setuju dengan sistem Bapak yang memberikan nilai bagi yang bertanya, sehingga mahasiswa aktif baik yang bertanya maupun yang berkomentar.</p>
<p>(RP)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/test-and-measure-evaluasi-perkuliahan-manajemen-stratejik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Pembelajar yang Lebih Cepat dari Pesaing</title>
		<link>http://strategiaksi.com/menjadi-pembelajar-yang-lebih-cepat-dari-pesaing/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/menjadi-pembelajar-yang-lebih-cepat-dari-pesaing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 17:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen strategi]]></category>
		<category><![CDATA[dayasaing]]></category>
		<category><![CDATA[keunggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[stratejik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Arie de Geus dari Royal Dutch/Shell melansir pernyataanya bahwa banyak perusahaan yang tumbang (bangkrut) disebabkan karena tidak mampu belajar, non-adaftif, dan gagal menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.  Pernyataan Arie tersebut juga berlaku dengan individu per seorangan.  Apabila kita tidak belajar, tidak mengembangkan dirinya dan tidak menjadi mahluk adaftif terhadap perubahan, maka siap-siap ketinggalan kemajuan.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://strategiaksi.com/wp-content/uploads/2010/06/Faster.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-71" title="Pembelajar" src="http://strategiaksi.com/wp-content/uploads/2010/06/Faster-300x235.jpg" alt="" width="300" height="235" /></a>Arie de Geus dari Royal Dutch/Shell melansir pernyataanya bahwa banyak perusahaan yang tumbang (bangkrut) disebabkan karena tidak mampu belajar, <em>non-adaftif</em>, dan gagal menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.  Pernyataan Arie tersebut juga berlaku dengan individu per seorangan.  Apabila kita tidak belajar, tidak mengembangkan dirinya dan tidak menjadi mahluk adaftif terhadap perubahan, maka siap-siap ketinggalan kemajuan.  Tidak berkembang, selalu terjebak mental block dan selalu dalam pusaran mindset negatif.</p>
<p>Belajar adalah kata kunci dari pernyataan Arie tersebut.  Belajar akan menghasilkan pengetahuan <em>(knowledge)</em>.  Siapapun, baik individu maupun organisasi yang ingin unggul dan menjadi pemimpin <em>(leader)</em> harus mengembangkan kemampuan belajarnya.  Namun pertanyaannya belajar seperti apa yang dimaksud oleh Arie tersebut?</p>
<p>Peter Senge, dalam bukunya <em>Fifth Discipline -  The Art and Practice of  The Learning Organization” </em>menyatakan bahwa “satu-satunya keunggulan bersaing yang lestari adalah kemampuan belajar lebih cepat dari para pesaing anda”.  Dalam pandangan Senge, belajar adalah inti sukses masa depan bagi seluruh insan.  Senge mengibaratkan setiap individu (organisasi) agar berperan sebagaimana layaknya spon penyerap, yang tiada hentinya menyerap segala perkembangan yang terjadi.  Namun harus digarisbawahi bahwa belajar saja tidak cukup dan bukan sebuah keunggulan daya saing.  Belajar yang lebih cepat dibanding pesaing adalah sebuah langkah stratejik apabila kita menginginkan kesuksesan di masa depan.</p>
<p>Mengapa kita harus belajar lebih cepat dari pesaing?  Tentu pertanyaan ini tidak perlu dijelaskan karena pasti pesaing kitapun belajar.  Menjadi lebih penting adalah seberapa cepat kita belajar lebih cepat dari pesaing bahkan menjadi pemenang.</p>
<p>Terkait dengan hal belajar lebih cepat, bagaiman prakteknya?  Apapun profesi Anda pasti tidak akan lepas dengan buku sebagai salah satu media pembelajaran. Walaupun belajar tidak mesti dengan membaca buku.  Membaca menjadi kata pertama dari firman Tuhan.  Membaca adalah salah satu cara yang dipakai untuk memperoleh informasi tersebut yang ingin kita dapatkan.  Dalam hal membaca, seberapa cepat kita membaca?   Kecepatan membaca sangat menentukan kecepatan kita mendapatkan informasi sekaligus pengetahuan.  Namun terkadang kita, sering membaca buku hanya bagian halaman depan dan beberapa halaman dalamnya saja.  Selebihnya tidak terselesaikan walaupun ketebalannya cuma 100 halaman.</p>
<p><em>Don’t worry</em>,  ada dua kabar yang ingin saya sampikan.  Kabar pertama adalah kabar baik, tersedia teknik membaca cepat <em>(speed reading)</em> yang dapat membantu kita menyelesaikan membaca buku dengan cepat dan menyenangkan.  Kabar berikutnya, kabar lebih baik dari kabar pertama karena teknik speed reading tersebut dapat pelajari dari sebuah ebook yang diperoleh dengan cuma-cuma alias free.  Ebook ini ditulis oleh <a title="Muhammad Noer" href="http://www.muhammadnoer.com/">Mohammad Noer</a>, silahkan kunjungi <a title="Membaca cepat" href="http://www.membacacepat.com/">disini</a>.</p>
<p>Dengan tool <em>speed reading </em>tersebut dan jika kita sudah berhasil menguasinya sehingga menjadi <a title="Myelin" href="http://strategiaksi.com/2010/06/23/resensi-buku-myelin-mobilitas-intangible-menjadi-kekuatan-perubahan/">Myelin</a> serta terus menerus mengembangkan diri, maka salah satu pilar keunggulan daya saing sudah kita genggam kita.  (RP)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/menjadi-pembelajar-yang-lebih-cepat-dari-pesaing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi buku Myelin: Mobilitas Intangible Menjadi Kekuatan Perubahan</title>
		<link>http://strategiaksi.com/resensi-buku-myelin-mobilitas-intangible-menjadi-kekuatan-perubahan/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/resensi-buku-myelin-mobilitas-intangible-menjadi-kekuatan-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 03:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Action]]></category>
		<category><![CDATA[Intangible]]></category>
		<category><![CDATA[Myelin]]></category>
		<category><![CDATA[Rhenald Kasali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah seminar, saya diajarkan untuk take action, miracle happen.  Hanya satu kegiatan yang harus kita lakukan action, action, action &#8230;. pokoknya action.  Karena action adalah langkah awal dari kekuatan mencapai impian.  Ternyata memang benar seperti itu.  Namun kebanyakan kita, kata action hanya sekedar jargon, dan kita tidak bisa langsung bertindak.  Malah menjadi NATO (no [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://strategiaksi.com/wp-content/uploads/2010/06/Myelin.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-57" title="Myelin" src="http://strategiaksi.com/wp-content/uploads/2010/06/Myelin-238x300.jpg" alt="" width="150" height="189" /></a></p>
<p>Dalam sebuah seminar, saya diajarkan untuk <em>take action, miracle happen</em>.  Hanya satu kegiatan yang harus kita lakukan <em>action, action, action</em> &#8230;. pokoknya <em>action</em>.  Karena <em>action </em>adalah langkah awal dari kekuatan mencapai impian.  Ternyata memang benar seperti itu.  Namun kebanyakan kita, kata <em>action</em> hanya sekedar jargon, dan kita tidak bisa langsung bertindak.  Malah menjadi NATO <em>(no action, talk only)</em>.  Kenapa?</p>
<p>Dalam seminar yang lain yang membahas mengenai intelegensia, saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut.  Semua berawal dan bermula dari semenjak kita dalam kandungan yang kemudian dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita berada.  (Hmmm &#8230;topik ini pun cukup menarik untuk diangkat tersendiri &#8230;).   Dikatakan bahwa semua aktifitas kita dikendalikan oleh otak.  Otak pula yang selama ini menjadi konsen para pengembang pendidikan.  Maka jadilah semuanya mengandalkan otak.  Pendidikan berbasiskan pada otak.</p>
<p>Namun, dalam buku ini dikatakan bahwa orang yang pintar saja belum tentu sukses karena ada faktor lain yang menjunjang kesuksesan selain otak yaitu tindakan <em>(action)</em> yang dilakukan oleh otot kita.  Masalahnya kenapa otak dan otot menjadi tidak singkron.  Jawabannya adalah kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar otak kita <em>(brain memory)</em> tetapi juga seberapa tebal <em>muscle memory</em> kita.  Memori yang tersimpan dalam otot, itulah yang dinamakan disebut dalam buku ini sebagai Myelin.  Sebenarnya Myelin juga terdapat dalam otak, namun tebal tipisnya jaringan myelin itulah yang menentukan.  Myelin dalam otot kita akan semakin tebal, jika banyak dilatih.  Semakin banyak berlatih, semakin kita belajar untuk mencapai cara yang paling efektif.</p>
<p>Tidak ada sebuah kesuksesan yang diperoleh dengan mudah, santai, dan datang tiba-tiba.  Banyak sudah kita baca penemuan bola lampu dihasilkan dari ribuan kali percobaan.  Kesuksesan KFC menjadi restoran kelas dunia, dimulai dari penolakan ribuan kali.  Perjalanan 1.000 mil pun dimulai dari mil yang pertama, langkah pertama malah.</p>
<p>Kira-kira begitulah, pandangan saya mengenai buku ini.  Buku ini menjadi sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan gaya penulisan yang mengalir penuh cerita.   Buku Myelin: Mobilitas Intangible Menjadi  Kekuatan Perubahan, merupakan buku ke-18 yang ditulis oleh <a href="http://www.rumahperubahan.com/">Prof. Rhenal  Kasali, Ph.D</a>.  Saya meresensikan buku ini hanya bab 1-3 dari keseluruhannya 9 bab.  Selamat menikmati.</p>
<p>Dikatakan<em> intangible</em> melekat pada manusia, contohnya seperti seperti artis tua Susan Boyle, bintang-bintang sepak bola Brazil (dari Pele sampai Ronaldinho), dan Sei Ri Pak.  <em>Intangible</em> dibangun dalam diri manusia yang membentuk myelin, dan begitu internal intangible terbentuk, dibutuhkan jembatan intangible ke luar <em>(external intangible)</em>.</p>
<p>Apa yang menyebabkan Susan Boyle untuk hadir dalam audisi Britain’s Got Talent ?  Susan menyadari bahwa dia harus mambangun jembatan dan melengkapi internal intangibles-nya (skill dan teknik bernyanyi yang prima) karena untuk menjadi penyanyi terkenal dan profesional memerlukan reputasi dan brand image.  Dimana reputasi dan brand image adalah elemen penting dari intangible.</p>
<p><em>Intangible</em> juga dapat berada dalam perusahaan, melekat pada diri karyawan dalam bentuk ketetrampilan, kerjasama tim, tata nilai dan budaya perusahaan, reputasi serta teknologi.   Disisi lain <em>intangible</em> juga dapat berada di luar perusahaan, melekat pada brand image, customer loyalty dan dukungan.</p>
<p>Contohnya seperti pada perusahaan ISS (jasa integrated facility), Wika (konstruksi), Blue bird (jasa transportasi) dan Bank Mandiri (perbankan), yaitu bagaimana kondisi awal perusahaan-perusahaan tersebut, intangibelnya berhasil dibangun dan hasil yang mereka peroleh saat ini.</p>
<p>Ekplorasi pada konsep Manajemen Perubahan telah bermuara pada ilmu behavioral genetics yang merupakan perpaduan antara ilmu-ilmu perilaku (behavioral science) dan ilmu genetika.  Eksplorasi itu menunjukan bahwa untuk melakukan perubahan diperlukan adanya <em>change DNA</em>, yaitu cara berpikir yang bersifat terbuka atau dikenal dengan OCEAN <em>(Openess to experience, Consciencetiousness, Extroversion, Agreeableness, Neuroticism).<br />
</em><br />
Eksporasi selanjutnya adalah temuan baru dalam ilmu biologi yang telah menemukan sesuatu yang menghasilkan gerakan atau motoric dalam diri manusia.  Bahwa pemahaman mengenai change mindset saja tidak cukup efektif, nyatanya orang-orang yang mindset-nya telah berubah tidak bergerak dan hanya berwacana.</p>
<p>Ternyata kapasitas tambang intangible-lah yang menjadi penyebabnya.  Hanya mereka yang memiliki modal intangible lebih besar yang berhasil melakukan perubahan.  Mereka adalah orang-orang yang sel motoriknya telah terlatih. Seperti dalam entrepreneurship, yang berhasil memulai usaha biasanya hanya orang-orang yang memiliki karakter action oriented dan action oriented dimulai dari kebiasaan-kebiasaan berbergerak di lapangan yang menghasilkan myelin (muscle memory).</p>
<p>Lapisan myelin sendiri ditemukan oleh Rudolf Viechow pada tahun 1854.  Myelin berfungsi meningkatkan kecepatan arus informasi (dalam bentuk impulses) dan menyebarkan keseluruh jaringan otot.  Semakin tebal lapisan itu semakin efisien informasi beredar dan semakin cepat serta semakin otomatis manusia melakukan gerakan.</p>
<p>Apa yang membentuk myelin?  Para ahli mengemukakan bahwa latihan atau kegiatan yang berulang-ulang sehingga menubuhkan keterampilan adalah jawabannya.  Daniel Coyle dalam <em>the Talent Code: Greatnes It’s Born It’s Grown.  Here’s Now</em> (2009) memberikan rumus menarik, yaitu <em>Deep practice x 10.000 hours = World Class Skill</em>.  Hal ini juga sejalan dengan yang diungkapkan oleh Malcom Gladwell dalam <em>Outliners: The Story of Success</em> (2008) dengan formula yang disebut “Kaidah 10.000 jam”. (RP)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/resensi-buku-myelin-mobilitas-intangible-menjadi-kekuatan-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan itu Kekuatan</title>
		<link>http://strategiaksi.com/perbedaan-itu-kekuatan/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/perbedaan-itu-kekuatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 03:56:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Diferensiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Excellence]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Difference is power. Itulah makna dari diferensiasi yang diajarkan dalam ilmu marketing. Diferensiasi adalah bagian dari &#8220;strategi&#8221; pemasaran selain segmentasi dan targeting. Ilmu marketing mengajarkan menjadi berbeda &#8220;dibanding pesaing&#8221; adalah suatu strategi untuk memenangkan persaingan. Berbeda diperlukan untuk menjadi unggul (excellence) dibandingkan dengan kompetitor. No difference, no excellence ! Berbeda (diferensiasi) juga menjadi salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Difference is power. Itulah makna dari diferensiasi yang diajarkan dalam ilmu marketing. Diferensiasi adalah bagian dari &#8220;strategi&#8221; pemasaran selain segmentasi dan targeting. Ilmu marketing mengajarkan menjadi berbeda &#8220;dibanding pesaing&#8221; adalah suatu strategi untuk memenangkan persaingan. Berbeda diperlukan untuk menjadi unggul <em>(excellence)</em> dibandingkan dengan kompetitor. <em>No difference, no excellence</em> !</p>
<p>Berbeda (diferensiasi) juga menjadi salah satu pilihan dari strategi generik Philip Kotler. Dalam strategi generiknya, Kotler menyajikan pilihan strategi untuk untuk memenangkan persaingan, yaitu menjadi beda (strategi pertama), memilih strategi berbiaya murah (strategi kedua) atau memilih fokus (strategi ketiga). Dalam hal ini ketiga strategi tersebut dapat diterapkan dalam kita bekerja. (&#8230; yang satu ini akan saya ulas lebih dalam berikutnya).</p>
<p>Namun berbeda saja tidak cukup. Berbeda yang tidak asal-asalan, apalagi asbed (asal beda, he2x&#8230;. akronimnya bener ga ya &#8230; dimirip2x-in dengan asbun). Alih-alih menginginkan unggul malah mendatangkan bumerang dan menjadi petaka yang merugikan. Perbedaan yang asbed tidak ada manfaatnya. Jadinya nyeleneh dan dianggap gila sama orang lain. Weit &#8230;. tapi kata pepatah only the paranoid survive !!. Jadi gimana dong ?</p>
<p>Berbeda bukan tujuan. Artinya menjadi berbeda itu bukan tujuan yang harus/ingin dicapai. Jika menginginkan unggul, sempurna, berkualitas dan memenangkan persaingan haruslah berbeda. Namun berbeda hanyalah alat untuk mencapai keunggulan. Hanya sebagai alat untuk transformasi. Berbeda hanyalah salah satu strategi. Perbedaan hanyalah jembatan untuk menuju tujuan diseberang sana.</p>
<p>Perbedaan juga merupakan jalan untuk berubah. Perbedaan akan membuat seseorang eksis, ada dan bahkan justru berkembang. Perbedaan juga menjadi stimulus bagi siapa saja yang ingin eksis, diakui, hidup dan berkembang. Pun kita sebagai karyawan, entrepreneur, bisnis, trainer, dokter, dan siapapun harus berbeda dengan yang sudah ada. Berbeda dengan rekan kita.</p>
<p>Perbedaan juga menciptakan sejarah. Orde baru berbeda dengan orde lama. Orde reformasi berbeda dengan orde baru. Penemuan, sejarah, rekor, award ada akibat dari adanya perbedaan. Siapapun yang ingin dikenang dalam sejarah, mendapat award dan rekor buatlah perbedaan.</p>
<p>Perbedaan sebenarnya sudah menjadi fitrah (hukum alam, sunatulloh), kenapa demikian ? Karena semua mahluk yang ada di dunia ini sudah berbeda. Tidak ada yang sama, persis, bahkan yang kembar siam sekalipun. Mirip mungkin iya. Faktanya setiap orang dilahirkan berbeda, namun faktanya juga tidak setiap orang melahirkan keunggulan, tidak melahirkan sejarah, tidak melahirkan award baik bagi dirinya maupun bagi organisasinya (lingkungannya).</p>
<p>Perbedaan hanyalah modal awal atau modal dasar. Perbedaan belum menjadi sumber keunggulan bersaing. Namun jika modal awal saja tidak disadari, maka selanjutnya mana mungkin menjadari keunggulannya. Paling tidak mulai sekarang &#8230; sadarilah bahwa kita mempunyai modal dasar yang luar biasa, yang dapat kita gunakan untuk bersaing. Jangan cemaskan persaingan, karena persaingan hanya terjadi ketika ada persamaan. Begitu merasa kita sudah sama dengan orang lain (kompetitor), rubahlah haluan untuk menjadi berbeda.</p>
<p>(bersambung)</p>
<p>Salam,</p>
<p>Roup Purohim<br />
www.strategiaksi.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/perbedaan-itu-kekuatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>POWER HOUSE in You</title>
		<link>http://strategiaksi.com/power-house-in-you/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/power-house-in-you/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen strategi]]></category>
		<category><![CDATA[DNA]]></category>
		<category><![CDATA[Human capital]]></category>
		<category><![CDATA[Powerhouse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Powerhouse adalah kekuatan.  Kekuatan yang keluar dari dalam.  Kekuatan yang dimiliki oleh mereka yang tangguh, modern, progresif, inovatif, result oriented, adaptif dan tentu saja memiliki spirit perubahan.  Powerhouse sebagai sebuah kekuatan yang bisa dimiliki oleh siapa saja, tidak peduli siapa dia dan dari mana dia berasal.  Powerhouse berlaku buat siapa saja, baik dia sebagai sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Powerhouse adalah kekuatan.  Kekuatan yang keluar dari dalam.  Kekuatan yang dimiliki oleh mereka yang tangguh, modern, progresif, inovatif, result oriented, adaptif dan tentu saja memiliki spirit perubahan.  Powerhouse sebagai sebuah kekuatan yang bisa dimiliki oleh siapa saja, tidak peduli siapa dia dan dari mana dia berasal.  Powerhouse berlaku buat siapa saja, baik dia sebagai sebuah organisasi, perusahaan, negara ataupun individu perorangan.</p>
<p>Powerhouse dapat diartikan sebagai sebuah rumah besar bagi organisasi atau badan usaha atau negara yang mampu mengayomi puluhan hingga ratusan ribu orang, baik sebagai karyawan, maupun sebagai pemasok ataupun rakyatnya.  Dampak yang ditimbulkan oleh kekuatan powerhouse ini  sangat besar bagi perekonomian dan kesejahteraan orang-orang yang berada di dalamnya.  Tanpa powerhouse tidak akan ada pesawat terbang, kereta api, mobil, motor, perjalanan ke manca negara, produk-produk kimia, alat-alat kesehatan dan obat-obatan, makanan dalam keamasan, komputer dan piranti lunaknya, besi, baja bahkan migas.  Kita memerlukan powerhouse untuk mengembangkan teknologi, mempelopori produk-produk baru yang terus dibutuhkan.</p>
<p>Powerhouse menciptakan inovasi, teknonologi dan sistem yang menghasilkan kemudahan dan kemajuan peradaban manusia.   Powerhouse dalam perusahaan diartikan sebagai sebuah rumah yang besar, yang yang menghidupi ratusan bahkan ribuan karyawannya.  Perusahaan powerhouse  menjadi icon suatu bangsa dan menyumbang pendapatannya kepada negara dan menciptakan kesejahteraan bagi masyrakat negara tersebut.</p>
<p>Setiap negara maju, pasti di dukung oleh powerhouse.  Semakin maju suatu negara makin banyak dan beragam pula powerhouse-nya.   Contoh perusahaan dalam kategori powerhouse adalah petronas perusahaan minyak negeri jiran, malaysia.  Jerman memiliki Mercedez, BMW, Audi, Siemens dan seterusnya.  Inggris memiliki Lever Brothers (Unilever) dan Mark&amp;Spencer.  Finlandia memiliki Nokia.  Jepang didukung oleh Sumitomo, Sony, Panasonic, Honda, Toyota, Yamaha dan seterusnya.  Demikian pula dengan Korea membangun ekonominya melalui powerhouse mereka seperti Samsung, Daewoo, LG, Hyundai dan Posco.   Perusahaan-perusahaan tersebut menciptakan kesejahteraan masyakat bagi bangsanya.  Mereka adalah perusahaan hebat, besar, iconic dan luar biasa.</p>
<p>Powerhouse sangat penting bagi suatu negara, mengapa ?  Karena powerhouse menciptakan kesejahteraan masyarakat.  Negara tidak menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.  Powerhouse lah yang menciptakannya.  Mereka mempekerjakan ribuan bahkan ratusan ribu tenaga kerja.  Mereka menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah yang sangat besar.  Powerhouse menyumbang GNP dan penerimaan negara (melalui pajak dan pembangunan infrastruktur) yang sangat penting.  Powerhouse mengembangkan teknologi.  Dan Powerhouse menjadi simbol kemajuan bagi bangsanya.</p>
<p>Keunggulan utama powerhouse terletak pada efisiensi dan inovasinya.  Kalau dikelola dengan baik, ia dapat memiliki kemampuan menciptakan kebutuhan yang belum pernah dipikirkan oleh manusia.  Powerhouse memiliki DNA yang unggul dibanding dengan lainnya.  DNA adalah cetak biru kehidupan kita, elemen kunci yang memungkinkan diteruskannya ke kehidupan antar generasi.  Sebanyak 6 miliar orang, jika dikumpulkan DNA-nya hanya menjadi seberat satu butir beras (Kazuo Murakami).</p>
<p>Menjadi perusahaan powerhouse tidaklah mudah, instant dan terjadi begitu saja.  Kalau mereka (negara dan perahaan) sekarang sudah menjadi powerhouse, karena bekeja keras.  Mereka memiliki tujuan yang jelas apa yang akan mereka raih dimasa depan.  Mereka menganalisa barbagai aspek baik internal maupun eksternal yg mempengaruhi mereka.  Mereka mampu mengelola sumberdaya dan kapabilitasnya menjadi kompetensi inti yang dikelola secara terus menerus sehingga menjadi keunggulan bersaing yang berkelanjutan.</p>
<p>Mengambil contoh Singapure, negara tetangga Indonesia, sekarang Singapura menjadi negara yg luar biasa. Sebuah negara yg dapat dikategorikan sebagai negara powerhouse.  Padahal luas negara Singapur yg hanya sebesar DKI Jakarta, sumberdaya alam yg minim, posisi negara yg terjepit oleh negara besar Indonesia dan Malaysia.   Namun apa yang yang terjadi dan kita saksikan sekarang ?  Singapur menjadi Negara yang jauh lebih terkenal dan maju dibanding Indonesia.  Itu semua karena mereka mampu mengelola kelemahannya sebagai kekuatannya.  Mereka menjadi powerhouse dan menciptakan powerhose-powerhouse juga di dalamnya.  Powerhouse perusahannya dan powerhouse individunya.</p>
<p>Dibalik negara yang powerhouse dan perusahaan/organisasi yang powerhouse terdapat individu yang powerhouse.  Manusia sebagai individu mampu menciptakan keunggulan dan membangun kompetensinya untuk menjadi powerhouse.  Manusia bukan sekedar sumberdaya <em>(human resourse)</em> tetapi juga sebagai <em>human capital</em>.   Siapa saja mereka ?  Mereka adalah orang dengan sadar mengembangkan dirinya untuk membangun masa depannya.  Dan itu juga yang terjadi pada diri kita.  Apakah kita termasuk pada salah satu dari kategori individu powerhouse ? Tergantung pada seberapa besar kita mengembangkan diri kita.  Bagaimana kita membangun keunggulan kita, sehingga merupakan privilege yang hanya dimiliki oleh sedikit orang. [RPM]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/power-house-in-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi : Segala sesuatu mungkin terjadi</title>
		<link>http://strategiaksi.com/strategi-segala-sesuatu-mungkin-terjadi/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/strategi-segala-sesuatu-mungkin-terjadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 17:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Adam Khoo]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Kubik Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Powerhouse]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Visi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Dalam model manajemen strategi, setelah visi (tujuan yang ingin diraih) ditetapkan,  tahap selanjutnya adalah memformulasikan strategi.  Strategi adalah “rencana main”, ia memberikan kerangka acuan untuk bertindak dan ia memberikan keputusan-keputusan rencana tindakan yang akan diambil. Strategi dibuat untuk menentukan cara (how to) agar visi (impian) bisa diraih.  Formulasi strategi dibuat dengan memetakan kondisi internal dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam model manajemen strategi, setelah visi (tujuan yang ingin diraih) ditetapkan,  tahap selanjutnya adalah memformulasikan strategi.  Strategi adalah “rencana main”, ia memberikan kerangka acuan untuk bertindak dan ia memberikan keputusan-keputusan rencana tindakan yang akan diambil.</p>
<p>Strategi dibuat untuk menentukan cara <em>(how to)</em> agar visi (impian) bisa diraih.  Formulasi strategi dibuat dengan memetakan kondisi internal dan ekternal.  Kondisi internal terdiri dari <em>competency</em> (pengetahuan dan keterampilan) yang dimiliki, <em>resource</em> dan <em>capability</em>.  Kondisi eksternal meliputi industri, pasar, pesaing dan faktor ekternal lainnya.  Hasil evaluasi tersebut akan menghasilkan strategi umum <em>(grand strategi)</em> dan strategi khusus (spesifik).  Semakin spesifik visi yang ingin dicapai, akan semakin mudah pula mengembangkan strateginya.  Formulasi seperti ini lazim digunakan dalam membuat formulasi strategi korporat.  Namun kenapa juga tidak digunakan untuk membuat formulasi kesuksesan pribadi ?</p>
<p>Dalam hal karir, bisnis dan kehidupan, strategi mengarahkan pergerakan menuju visi (impian) yang dicita-citakan.  Kita bisa saja memiliki semua sumberdaya penggerak dan strategi, namun tanpa strategi yang tepat, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan.</p>
<p>Kubik Leadership memberikan panduan dalam membuat strategi untuk mencapai visi (<em>to be)</em> pribadi.  Ada tiga pilihan alternatif strategi yang dapat digunakan.  Strategi pertama dengan menggunakan segenap kemampuan dan potensi yang kita miliki.  Kedua dengan memperbaiki cara hidup tertentu.  Atau strategi ketiga dengan menerapkan strategi pertama dan kedua secara bersamaan.</p>
<p>Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan setiap individu mahluk sebagai individu yang spesial.   DNA setiap individu memiliki kekhasan.  Tiap individu berbeda dengan individu lainnya.    Karena setiap individu berbeda, maka pasti tiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda.  Jangan khawatir kita tidak memiliki potensi atau kemampuan untuk meraih visi yang sudah ditetapkan.  Potensi kita sangatlah besar <em>(powerhouse)</em>, tak tertandingi.  Jika kita bisa menemukan dan mengolahnya.   Kuncinya adalah apakah kita sudah menemukan <em>powerhouse</em> kita dan sudahkah kita bekerja sesuai dengan <em>powerhouse</em> yang  kita miliki ?</p>
<p>Sangat sedikit orang yang mendapatkan kesuksesan secara kebetulan.  Entah itu memenangkan perlombaan, meraih sebuah posisi atau keberhasilan bisnis.  Hampir semua hasil sebuah rancangan.  Sayangnya, hanya sedikit orang yang memiliki rancangan hidup.  Akhirnya jatuh dalam rancangan hidup orang lain.  Jika kita mengetahui persis secara spesifik apa yang inginkan, maka kita dapat memusatkan seluruh talenta dan energi yang kita miliki.  Seperti halnya sinar laser, walaupun sama dengan sinar lainnya akan tetapi sinar laser dapat memotong logam yang sangat keras.</p>
<p>Adam Khoo, mengatakan “rancanglah hidup anda, mulailah dengan membuat tujuan spesifik apa yang diinginkan, buatlah strateginya, segala sesuatu tinggal mungkin terjadi”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/strategi-segala-sesuatu-mungkin-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Visi : Kemana kapal mau dilabuhkan</title>
		<link>http://strategiaksi.com/visi-kemana-kapal-mau-dilabuhkan/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/visi-kemana-kapal-mau-dilabuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 17:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Brian Tracy]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Visi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Apabila saat ini posisi kita sebagai karyawan, label apa yang akan kita lekatkan pada perusahaan tempat kita bekerja. Apakah perusahaan tersebut kita anggap sebagai segala-galanya tempat kita mengantungkan hidup kita. Atau sebagai kendaraan untuk menggapai masa depan dan kehidupan kita ? Pilihannya terserah kita. Ada kisah mengenai kutu yang di hidup di bulu seekor anjing. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apabila saat ini posisi kita sebagai karyawan, label apa yang akan kita lekatkan pada perusahaan tempat kita bekerja.   Apakah perusahaan tersebut kita anggap sebagai segala-galanya tempat kita mengantungkan hidup kita.    Atau sebagai kendaraan untuk menggapai masa depan dan kehidupan kita ?   Pilihannya terserah kita.</p>
<p>Ada kisah mengenai kutu yang di hidup di bulu seekor anjing.  Suatu ketika ada anak kutu yang berkata kepada ibunya.   “Bu, seperti apakah anjing tersebut?”.   Dengan penuh sayang ibu kutu berkata pada anaknya, “lho, kita kan hidup dan tinggal dibulu-bulunya.  Apakah kamu tidak tahu nak?”.    Mendengar jawaban tesebut dari ibunya, anak kutu masih belum puas.  “Iya bu, saya tahu.   Kita tinggal diatasnya dan setiap hari bersama anjing.    Tetapi saya belum mengetahui bentuk anjing itu seperi apa”.</p>
<p>Karena anak kutu terus menerus bertanya, lama-lama ibunya kesal juga.   Akhirnya untuk memenuhi keingintahuan anaknya, ditendangnya lah anak kutu, sehingga terlempar ke luar jauh dari tempatnya.   Tepatnya terlempar ke lantai dan ke luar dari anjing bulu-bulu anjing.   Setelah terlempar keluar, maka anak kutu dengan leluasa melihat kondisi anjing, dimana rumahnya berada di atasanya.   Sungguh kaget dan bergembira melihat pemandangan yang selama ini menjadi bahan pertanyaannya.  Kaget karena telihatlah anjing tua tempat tinggalnya selama ini adalah anjing yang buruk dan sedang sekarat.   Bergembira karena dia mengetahui masa depan kehidupannya.   Kemudaian anak kutu tersebut bergumam, “untunglah saya terlempar keluar, sehingga tidak ikut mati bersama anjing tersebut”.</p>
<p>Jangan sampai kehidupan karir kita di perusahaan kita bekerja saat ini kondisinya sama dengan anjing tua yang buruk dan sedang sekarat. Karena kita kuper, atau dengan alasan karena kita loyal kepada perusahaan, karena kita karyawan senior, karena kita senang dengan atmosfer kantor, karena kantor dekat dengan tempat tinggal kita, karena bos kita sangat baik, karena mau kenama lagi saya mencari kerja, dll.   Karena alasan-alasan tersebut kita merasa nyaman atau menyamankan diri untuk hidup bersama dengan perusahaan tempat kita bekerja sekarang.  Dengan segala alasan-alasan tersebut kita memutuskan untuk terus memilih hidup bersama dengan perusahaan sekarang, bagaimanapun kondisinya perusahaan tersebut.     Sungguh berbahaya, jangan-jangan kita memilih tempat hidup yang sudah mulai mengalami kehancuran.</p>
<p>Mulai sekarang, risetlah tempat kita bekerja.  Bagaimana kondisinya, bagaimana kehidupannya.  Apakah masih layak kita hidup bersamanya ?  Ambil strategi apa bila masih layak dan bagaimana jika tidak layak.  Namun yang terpenting adalah bukan seberapa baik atau buruk kondisi sekarang kita bekerja, tetapi seberapa cepat perusahaan tempat kita bekerja menjadi jembatan penghubung terhadap impian atau visi hidup kita.</p>
<p>Brian Tracy mengatakan “tak peduli dari mana kita berasal, tetapi pedulilah kemana kita akan menuju”.   Brian Tracy mengajarkan pedulilah pada kemana kita akan menuju.  Kemana akan kita menuju berarti apa yang ingin kita raih atau miliki atau menjadi apa dalam hidup kita.  Inilah yang disebut dengan visi atau impian atau <em>“to be” </em>(dalam istilah kubik leadership).  Sudahkah kita perduli dengan masa depan kita kita dengan memiliki <em>“to be”</em> yang jelas ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/visi-kemana-kapal-mau-dilabuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Aksi : Jalan mana yang kita pilih</title>
		<link>http://strategiaksi.com/strategi-aksi-jalan-mana-yang-kita-pilih/</link>
		<comments>http://strategiaksi.com/strategi-aksi-jalan-mana-yang-kita-pilih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 15:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roup Purohim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen strategi]]></category>
		<category><![CDATA[blueprint]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategiaksi.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Andaikan patung selamat datang Jakarta, yang berdiri megah, dikelilingi air mancur dan dilengkapi kerlip lampu warna-warni di kala malam dan menjadi salah satu ikon Jakarta itu sebagai diri kita. Kita berdiri disana sepanjang hari setiap tahun, kerjaanya hanya berdiri mematung dan menyaksikan apapun yang terjadi disekitar bundaran hotel Indonesia. Tentu kita bisa melihat, mendengar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andaikan patung selamat datang Jakarta, yang berdiri megah, dikelilingi air mancur dan dilengkapi kerlip lampu warna-warni di kala malam dan menjadi salah satu ikon Jakarta itu sebagai diri kita.  Kita berdiri disana sepanjang hari setiap tahun, kerjaanya hanya berdiri mematung  dan menyaksikan apapun yang terjadi disekitar bundaran hotel Indonesia.  Tentu kita bisa melihat, mendengar dan merasakan perubahan yang amat luarbiasa di sekeliling bundaran tersebut.  Menjadi saksi setiap kejadian yang ada di sekitar bundaran Hotel Indonesia.  Menjadi saksi setiap pembangunan yang terjadi di Jakarta.  Menjadi pengamat lalu lalang mobil yang semakin hari semakin memadat.  Terkadang menjadi tempat menyalurkan aspirasi masyarakat.  Menjadi saksi pergantian rezim.  </p>
<p>Sekarang Hotel Indonesia sudah berubah, Plaza Indonesia sudah berganti wajah, Jakarta sudah beganti-ganti beberapa gubernur dan sedangkan patung selamat datang dengan setia tetap berdiri mamatung menjadi penunggu tetap bundaran.  Hari berganti hari tetap berdiri, hujan atau panas tetap menantang, lingkungan sekitar terus bergerak dan berubah.  Tapi kita hanya diam, berdiri dan mamatung.  Sementara umur semakin meranjak senja, kulit semakin mengkerut, pandangan sudah mulai kabur.  Selalu ada ada perubahan disekeliling, tetapi kita hanya bisa diam berdiri mematung dan selalu tekaget-kaget begitu mendengar dan melihat perubahan disekeliling.  </p>
<p>Eit, siapa bilang patung Jakarta tidak berubah ?  Dia berubah, setiap tahun juga berubah.  Selalu ada saja perbaikan, penggantian lampu taman, pembersihan kolam dan perawatan lainnya.  Semakin hari semakin cantik,  semakin menyenangkan dan memperindah bundaran hotel Indonesia.  Tapi perubahan tersebut terjadi, hanya jika ada petugas yang datang dan membuatkan perbaikan atau perawatan.  Patungnya tetap berdiri mematung dan menerima apa saja yang dilakukan oleh petugas yang merawatnya.  Mau diberi hiasan lampu hijau boleh, diberi lampu sorot bisa, di hiasi air mancur yang meliuk tidak apa-apa.  Dia hanya menerima saja,  pasrah.</p>
<p>Apakah kita sama seperti patung selamat datang Jakarta ?  Lingkungan dimana kita tinggal, disadari atau tidak selalu berubah.  Diri kitapun berubah, tambah hari tambah pula usia kita.  Lihatlah disekitar tempat tinggal kita, lihat kiri dan kanan perubahan selalu terjadi.  Hadirnya tetangga baru, atau bahkan pergi meninggalkan kita.  Dilingkungan kantor, berapa banyak teman kantor yang datang dan pergi silih berganti. Sementara kita, berdiri matung dan menjadi saksi perubahan disekitar kita.</p>
<p>Mungkin kita berubah, tetapi kita berubah hanya jika ada orang yang datang dan mengajak kita baru kita bergerak.  Sama dengan patung selamat datang Jakarta, kita menyerahkan perubahan kepada orang lain.  Kita menyerahkan perubahan diri kita kepada orang yang datang mengajak kita.  Jika tidak ada yang mengajak, kita hanya diam, pasif dan berharap.  Sadarkah kita mengenai hal ini ?</p>
<p>Apakah kita mau memiliki nasib yang sama seperti patung selamat datang Jakarta ?  pasti tidak.  Namun sudahkah kita memiliki rencana perubahan untuk diri kita ?   Sudahkan kita memiliki blueprint kehidupan dan keluarga kita ?</p>
<p>Jika kita sebagai karyawan apa sikap kita pada perusahaan kita ?  Perusahaan tempat kita bekerja kita pasti berubah setiap tahunnya, paling tidak target penjualannya yang naik setiap tahun.  Namun apakah value kita akan naik seiring dengan naiknya target penjualan perusahaan ? Otomatiskah value kita naik begitu naik target penjualan perusahaan kita ?</p>
<p>Perusahaan pasti akan berubah.  Namun percayalah, kebanyakan perusahaan hanya memikirkan perubahan dirinya.  Jarang yang memiliki rencana perubahan bagi karyawannya.  Sebagai karyawan, tentu kita tidak memilih berubah hanya jika perusahaan berubah.  Tetapi kita memilih akan berubah (sendiri) tidak perduli perusahaan berubah atau tidak.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategiaksi.com/strategi-aksi-jalan-mana-yang-kita-pilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
