Archive | Inspirasi

19 August 2010 ~ 0 Comments

Rhenald Kasali seorang Guru Inspiratif

Rhenald Kasali seorang Guru Inspiratif

Sudah hampir satu tahun saya menjadi bagian dari “komunitas” perubahan.    Komunitas ini dipayungi oleh Yayasan dan PT Rumah Perubahan dimana Prof Rhenald Kasali sebagai founder sekaligus chairmannya.  Rumah Perubahan terdiri dari divisi Change Management Consulting (CMC-RP) – dimana saya menjadi salah satu insan di dalamnya – dan Rhenald Kasali School Entrepreneurs (RKSE).    Sebuah komunitas yang memiliki misi perubahan untuk mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik.

Jauh sebelum bergabung dengan Rumah Perubahan, saya memimpikan untuk belajar langsung kepada Prof. Rhenald, dan impian itu menjadi kenyataan dengan cara yang sebelumnya tidak terpikirkan. Kali ini saya ingin share tulisan Prof Rhenal yang dimuat di Kompas tanggal 9 Agustus 2007 mengenai guru inspiratif.  Karena saya juga adalah seorang pengajar dan secara pribadi merasakan bahwa beliau adalah guru inspiratif (inspirational teacher).   Tulisan ini juga bisa dibaca di sini.  Selamat membaca.

Guru Inspiratif
oleh: Rhenald Kasali, Ph.D

Dalam hidup ini kita mengenal 2 jenis guru: guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer seluruh isi buku yang ditugaskan.  Ia mengajarkan sesuatu yang standard (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99% seluruh guru yang saya temui.

Guru inspiratif jumlahnya sangat terbatas, populasinya kurang dari 1%.  Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, melainkan yang mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking).  Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Kalau guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaharu yang berani menghancurkan kebiasaan-kebiasaan lama.

Dunia memerlukan dua-duanya seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan.  Tapi sayangnya sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum.  Keberadaan guru inspiratif akan sangat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis.  Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit  suatu bangsa keluar dari kegelapan.

Freedom Writers
Karya-karya pembaharuan, baik temuan-temuan spektakuler keilmuan, produk-produk komersial, maupun gerakan-gerakan sosial akan tampak di masyarakat.  Tetapi tak dapat dipungkiri semua itu berawal dari bangku sekolah.  Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas.  Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki, dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat dalam diri Erin Gruwell, guru perempuan yang ditempatkan di sebuah kelas “bodoh”, yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng.  Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan “honors students”, yang memiliki DNA pintar dan disiplin.  Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum.

Erin memulainya dengan segala kesulitan.  Selain katanya “bodoh” dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, terlibat kekerasan antargeng, saling melecehkan, tempramen, dan selalu rusuh.  Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh.

Kelas itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak super nakal tak boleh disekolahkan bersama-sama distinguised scholars.  Tetapi Erin tak putus asa, Ia membuat “kurikulum”-nya sendiri. Kurikulum itu bukan berisi ajaran-ajaran pengetahuan biasa (hard skill), melainkan pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai dan membagi mereka ke dalam dua kelompok di kiri dan di kanan.   Kalau menjawab “ya” mereka harus mendekati garis.  Dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antar geng.

Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib.  Sama-sama was-was, hidup penuh ancaman, curiga pada kelompok lain dan tak punya masa depan.  Mereka mulai bisa lebih relax terhadap guru dan teman-temannya dan sepakat saling memperbaharui hubungan.  Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi, sampai buku harian.  Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja.  Mereka menulis bebas.  Karya-karya mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers (FW).  Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku-pelaku perubahan di masyarakat.  Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film FW yang dibintangi Hilary Swank.

Keluar dari Belenggu
Apa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar saja, melainkan juga pada pendidikan tinggi.  Namun entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita semakin mengisolasi dirinya dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu oleh kurikulum.

Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan (meskipun pembacanya belum tentu memadai), dan rajin mengisi absen.  Dengarlah protes Kazuo Murakami., Ph.D, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007).  Ia terpaksa hijrah ke Amerika saat menyaksikan dominasi guru-guru kurikulum di Jepang yang membangun benteng hirarki.  Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak perduli dengan apa yang telah terjadi di luar.

Meski belum begitu menonjol dalam masyarakat kita, peranan guru-guru inspiratif ini sangat dibutuhkan.  Terlebih anggaran pendidikan kita masih sangat terbatas, dan lulusan-lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya.  Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal.

Ada 2 masalah yang perlu kita renungkan disini. Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student’s ability). Ia hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri.  Sedangkan guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, melainkan ribuan orang.  Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat “Aku ingin jadi seperti dia” atau “Aku bisa lebih hebat lagi”.

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons tekanan-tekanan eksternal, dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral.  Setiap upaya yang dilakukan guru-guru kreatif untuk meremajakannya dianggap sebagai ancaman, bahkan dianggap sebagai perbuatan tidak bermoral.  Saya masih ingat betul, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang sangat saya kenal.  Pada tahun 2005 Ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya dalam bidang pendidikan.  Penghargaan serupa dalam masing-masing bidang saat itu juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Tapi tak banyak yang tahu hari-hari itu Ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar “kurikulum”.  Kesalahannya adalah telah memperbaharui metode pengajaran agar murid-muridnya menjadi lebih artikulatif.  Muridnya senang belum berarti guru-guru lain senang.  Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik.  Semester berikutnya namanya dicoret dari daftar pengajar. Karir gurubesarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal.

Kata Jagdish N. Sheth, begitu orang-orang lama menyangkal realita baru, maka mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial.  Prilaku internal itu adalah belenggu innertia, yang disebutnya sebagai destructive habits.  Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimilikinya.

Sudah saatnya benteng innertia seperti ini dihapuskan dengan “memanusiawikan” kurikulum dengan memberi ruang yang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.  (RP)

Continue Reading

29 June 2010 ~ 0 Comments

Menjadi Pembelajar yang Lebih Cepat dari Pesaing

Menjadi Pembelajar yang Lebih Cepat dari Pesaing

Arie de Geus dari Royal Dutch/Shell melansir pernyataanya bahwa banyak perusahaan yang tumbang (bangkrut) disebabkan karena tidak mampu belajar, non-adaftif, dan gagal menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.  Pernyataan Arie tersebut juga berlaku dengan individu per seorangan.  Apabila kita tidak belajar, tidak mengembangkan dirinya dan tidak menjadi mahluk adaftif terhadap perubahan, maka siap-siap ketinggalan kemajuan.  Tidak berkembang, selalu terjebak mental block dan selalu dalam pusaran mindset negatif.

Belajar adalah kata kunci dari pernyataan Arie tersebut.  Belajar akan menghasilkan pengetahuan (knowledge).  Siapapun, baik individu maupun organisasi yang ingin unggul dan menjadi pemimpin (leader) harus mengembangkan kemampuan belajarnya.  Namun pertanyaannya belajar seperti apa yang dimaksud oleh Arie tersebut?

Peter Senge, dalam bukunya Fifth Discipline -  The Art and Practice of  The Learning Organization” menyatakan bahwa “satu-satunya keunggulan bersaing yang lestari adalah kemampuan belajar lebih cepat dari para pesaing anda”.  Dalam pandangan Senge, belajar adalah inti sukses masa depan bagi seluruh insan.  Senge mengibaratkan setiap individu (organisasi) agar berperan sebagaimana layaknya spon penyerap, yang tiada hentinya menyerap segala perkembangan yang terjadi.  Namun harus digarisbawahi bahwa belajar saja tidak cukup dan bukan sebuah keunggulan daya saing.  Belajar yang lebih cepat dibanding pesaing adalah sebuah langkah stratejik apabila kita menginginkan kesuksesan di masa depan.

Mengapa kita harus belajar lebih cepat dari pesaing?  Tentu pertanyaan ini tidak perlu dijelaskan karena pasti pesaing kitapun belajar.  Menjadi lebih penting adalah seberapa cepat kita belajar lebih cepat dari pesaing bahkan menjadi pemenang.

Terkait dengan hal belajar lebih cepat, bagaiman prakteknya?  Apapun profesi Anda pasti tidak akan lepas dengan buku sebagai salah satu media pembelajaran. Walaupun belajar tidak mesti dengan membaca buku.  Membaca menjadi kata pertama dari firman Tuhan.  Membaca adalah salah satu cara yang dipakai untuk memperoleh informasi tersebut yang ingin kita dapatkan.  Dalam hal membaca, seberapa cepat kita membaca?   Kecepatan membaca sangat menentukan kecepatan kita mendapatkan informasi sekaligus pengetahuan.  Namun terkadang kita, sering membaca buku hanya bagian halaman depan dan beberapa halaman dalamnya saja.  Selebihnya tidak terselesaikan walaupun ketebalannya cuma 100 halaman.

Don’t worry,  ada dua kabar yang ingin saya sampikan.  Kabar pertama adalah kabar baik, tersedia teknik membaca cepat (speed reading) yang dapat membantu kita menyelesaikan membaca buku dengan cepat dan menyenangkan.  Kabar berikutnya, kabar lebih baik dari kabar pertama karena teknik speed reading tersebut dapat pelajari dari sebuah ebook yang diperoleh dengan cuma-cuma alias free.  Ebook ini ditulis oleh Mohammad Noer, silahkan kunjungi disini.

Dengan tool speed reading tersebut dan jika kita sudah berhasil menguasinya sehingga menjadi Myelin serta terus menerus mengembangkan diri, maka salah satu pilar keunggulan daya saing sudah kita genggam kita.  (RP)

Continue Reading

25 December 2009 ~ 0 Comments

Perbedaan itu Kekuatan

Difference is power. Itulah makna dari diferensiasi yang diajarkan dalam ilmu marketing. Diferensiasi adalah bagian dari “strategi” pemasaran selain segmentasi dan targeting. Ilmu marketing mengajarkan menjadi berbeda “dibanding pesaing” adalah suatu strategi untuk memenangkan persaingan. Berbeda diperlukan untuk menjadi unggul (excellence) dibandingkan dengan kompetitor. No difference, no excellence !

Berbeda (diferensiasi) juga menjadi salah satu pilihan dari strategi generik Philip Kotler. Dalam strategi generiknya, Kotler menyajikan pilihan strategi untuk untuk memenangkan persaingan, yaitu menjadi beda (strategi pertama), memilih strategi berbiaya murah (strategi kedua) atau memilih fokus (strategi ketiga). Dalam hal ini ketiga strategi tersebut dapat diterapkan dalam kita bekerja. (… yang satu ini akan saya ulas lebih dalam berikutnya).

Namun berbeda saja tidak cukup. Berbeda yang tidak asal-asalan, apalagi asbed (asal beda, he2x…. akronimnya bener ga ya … dimirip2x-in dengan asbun). Alih-alih menginginkan unggul malah mendatangkan bumerang dan menjadi petaka yang merugikan. Perbedaan yang asbed tidak ada manfaatnya. Jadinya nyeleneh dan dianggap gila sama orang lain. Weit …. tapi kata pepatah only the paranoid survive !!. Jadi gimana dong ?

Berbeda bukan tujuan. Artinya menjadi berbeda itu bukan tujuan yang harus/ingin dicapai. Jika menginginkan unggul, sempurna, berkualitas dan memenangkan persaingan haruslah berbeda. Namun berbeda hanyalah alat untuk mencapai keunggulan. Hanya sebagai alat untuk transformasi. Berbeda hanyalah salah satu strategi. Perbedaan hanyalah jembatan untuk menuju tujuan diseberang sana.

Perbedaan juga merupakan jalan untuk berubah. Perbedaan akan membuat seseorang eksis, ada dan bahkan justru berkembang. Perbedaan juga menjadi stimulus bagi siapa saja yang ingin eksis, diakui, hidup dan berkembang. Pun kita sebagai karyawan, entrepreneur, bisnis, trainer, dokter, dan siapapun harus berbeda dengan yang sudah ada. Berbeda dengan rekan kita.

Perbedaan juga menciptakan sejarah. Orde baru berbeda dengan orde lama. Orde reformasi berbeda dengan orde baru. Penemuan, sejarah, rekor, award ada akibat dari adanya perbedaan. Siapapun yang ingin dikenang dalam sejarah, mendapat award dan rekor buatlah perbedaan.

Perbedaan sebenarnya sudah menjadi fitrah (hukum alam, sunatulloh), kenapa demikian ? Karena semua mahluk yang ada di dunia ini sudah berbeda. Tidak ada yang sama, persis, bahkan yang kembar siam sekalipun. Mirip mungkin iya. Faktanya setiap orang dilahirkan berbeda, namun faktanya juga tidak setiap orang melahirkan keunggulan, tidak melahirkan sejarah, tidak melahirkan award baik bagi dirinya maupun bagi organisasinya (lingkungannya).

Perbedaan hanyalah modal awal atau modal dasar. Perbedaan belum menjadi sumber keunggulan bersaing. Namun jika modal awal saja tidak disadari, maka selanjutnya mana mungkin menjadari keunggulannya. Paling tidak mulai sekarang … sadarilah bahwa kita mempunyai modal dasar yang luar biasa, yang dapat kita gunakan untuk bersaing. Jangan cemaskan persaingan, karena persaingan hanya terjadi ketika ada persamaan. Begitu merasa kita sudah sama dengan orang lain (kompetitor), rubahlah haluan untuk menjadi berbeda.

(bersambung)

Salam,

Roup Purohim
www.strategiaksi.com

Continue Reading

24 November 2009 ~ 0 Comments

POWER HOUSE in You

Powerhouse adalah kekuatan.  Kekuatan yang keluar dari dalam.  Kekuatan yang dimiliki oleh mereka yang tangguh, modern, progresif, inovatif, result oriented, adaptif dan tentu saja memiliki spirit perubahan.  Powerhouse sebagai sebuah kekuatan yang bisa dimiliki oleh siapa saja, tidak peduli siapa dia dan dari mana dia berasal.  Powerhouse berlaku buat siapa saja, baik dia sebagai sebuah organisasi, perusahaan, negara ataupun individu perorangan.

Powerhouse dapat diartikan sebagai sebuah rumah besar bagi organisasi atau badan usaha atau negara yang mampu mengayomi puluhan hingga ratusan ribu orang, baik sebagai karyawan, maupun sebagai pemasok ataupun rakyatnya.  Dampak yang ditimbulkan oleh kekuatan powerhouse ini  sangat besar bagi perekonomian dan kesejahteraan orang-orang yang berada di dalamnya.  Tanpa powerhouse tidak akan ada pesawat terbang, kereta api, mobil, motor, perjalanan ke manca negara, produk-produk kimia, alat-alat kesehatan dan obat-obatan, makanan dalam keamasan, komputer dan piranti lunaknya, besi, baja bahkan migas.  Kita memerlukan powerhouse untuk mengembangkan teknologi, mempelopori produk-produk baru yang terus dibutuhkan.

Powerhouse menciptakan inovasi, teknonologi dan sistem yang menghasilkan kemudahan dan kemajuan peradaban manusia.   Powerhouse dalam perusahaan diartikan sebagai sebuah rumah yang besar, yang yang menghidupi ratusan bahkan ribuan karyawannya.  Perusahaan powerhouse  menjadi icon suatu bangsa dan menyumbang pendapatannya kepada negara dan menciptakan kesejahteraan bagi masyrakat negara tersebut.

Setiap negara maju, pasti di dukung oleh powerhouse.  Semakin maju suatu negara makin banyak dan beragam pula powerhouse-nya.   Contoh perusahaan dalam kategori powerhouse adalah petronas perusahaan minyak negeri jiran, malaysia.  Jerman memiliki Mercedez, BMW, Audi, Siemens dan seterusnya.  Inggris memiliki Lever Brothers (Unilever) dan Mark&Spencer.  Finlandia memiliki Nokia.  Jepang didukung oleh Sumitomo, Sony, Panasonic, Honda, Toyota, Yamaha dan seterusnya.  Demikian pula dengan Korea membangun ekonominya melalui powerhouse mereka seperti Samsung, Daewoo, LG, Hyundai dan Posco.   Perusahaan-perusahaan tersebut menciptakan kesejahteraan masyakat bagi bangsanya.  Mereka adalah perusahaan hebat, besar, iconic dan luar biasa.

Powerhouse sangat penting bagi suatu negara, mengapa ?  Karena powerhouse menciptakan kesejahteraan masyarakat.  Negara tidak menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.  Powerhouse lah yang menciptakannya.  Mereka mempekerjakan ribuan bahkan ratusan ribu tenaga kerja.  Mereka menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah yang sangat besar.  Powerhouse menyumbang GNP dan penerimaan negara (melalui pajak dan pembangunan infrastruktur) yang sangat penting.  Powerhouse mengembangkan teknologi.  Dan Powerhouse menjadi simbol kemajuan bagi bangsanya.

Keunggulan utama powerhouse terletak pada efisiensi dan inovasinya.  Kalau dikelola dengan baik, ia dapat memiliki kemampuan menciptakan kebutuhan yang belum pernah dipikirkan oleh manusia.  Powerhouse memiliki DNA yang unggul dibanding dengan lainnya.  DNA adalah cetak biru kehidupan kita, elemen kunci yang memungkinkan diteruskannya ke kehidupan antar generasi.  Sebanyak 6 miliar orang, jika dikumpulkan DNA-nya hanya menjadi seberat satu butir beras (Kazuo Murakami).

Menjadi perusahaan powerhouse tidaklah mudah, instant dan terjadi begitu saja.  Kalau mereka (negara dan perahaan) sekarang sudah menjadi powerhouse, karena bekeja keras.  Mereka memiliki tujuan yang jelas apa yang akan mereka raih dimasa depan.  Mereka menganalisa barbagai aspek baik internal maupun eksternal yg mempengaruhi mereka.  Mereka mampu mengelola sumberdaya dan kapabilitasnya menjadi kompetensi inti yang dikelola secara terus menerus sehingga menjadi keunggulan bersaing yang berkelanjutan.

Mengambil contoh Singapure, negara tetangga Indonesia, sekarang Singapura menjadi negara yg luar biasa. Sebuah negara yg dapat dikategorikan sebagai negara powerhouse.  Padahal luas negara Singapur yg hanya sebesar DKI Jakarta, sumberdaya alam yg minim, posisi negara yg terjepit oleh negara besar Indonesia dan Malaysia.   Namun apa yang yang terjadi dan kita saksikan sekarang ?  Singapur menjadi Negara yang jauh lebih terkenal dan maju dibanding Indonesia.  Itu semua karena mereka mampu mengelola kelemahannya sebagai kekuatannya.  Mereka menjadi powerhouse dan menciptakan powerhose-powerhouse juga di dalamnya.  Powerhouse perusahannya dan powerhouse individunya.

Dibalik negara yang powerhouse dan perusahaan/organisasi yang powerhouse terdapat individu yang powerhouse.  Manusia sebagai individu mampu menciptakan keunggulan dan membangun kompetensinya untuk menjadi powerhouse.  Manusia bukan sekedar sumberdaya (human resourse) tetapi juga sebagai human capital.   Siapa saja mereka ?  Mereka adalah orang dengan sadar mengembangkan dirinya untuk membangun masa depannya.  Dan itu juga yang terjadi pada diri kita.  Apakah kita termasuk pada salah satu dari kategori individu powerhouse ? Tergantung pada seberapa besar kita mengembangkan diri kita.  Bagaimana kita membangun keunggulan kita, sehingga merupakan privilege yang hanya dimiliki oleh sedikit orang. [RPM]

Continue Reading

10 September 2009 ~ 0 Comments

Strategi : Segala sesuatu mungkin terjadi

Dalam model manajemen strategi, setelah visi (tujuan yang ingin diraih) ditetapkan,  tahap selanjutnya adalah memformulasikan strategi.  Strategi adalah “rencana main”, ia memberikan kerangka acuan untuk bertindak dan ia memberikan keputusan-keputusan rencana tindakan yang akan diambil.

Strategi dibuat untuk menentukan cara (how to) agar visi (impian) bisa diraih.  Formulasi strategi dibuat dengan memetakan kondisi internal dan ekternal.  Kondisi internal terdiri dari competency (pengetahuan dan keterampilan) yang dimiliki, resource dan capability.  Kondisi eksternal meliputi industri, pasar, pesaing dan faktor ekternal lainnya.  Hasil evaluasi tersebut akan menghasilkan strategi umum (grand strategi) dan strategi khusus (spesifik).  Semakin spesifik visi yang ingin dicapai, akan semakin mudah pula mengembangkan strateginya.  Formulasi seperti ini lazim digunakan dalam membuat formulasi strategi korporat.  Namun kenapa juga tidak digunakan untuk membuat formulasi kesuksesan pribadi ?

Dalam hal karir, bisnis dan kehidupan, strategi mengarahkan pergerakan menuju visi (impian) yang dicita-citakan.  Kita bisa saja memiliki semua sumberdaya penggerak dan strategi, namun tanpa strategi yang tepat, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kubik Leadership memberikan panduan dalam membuat strategi untuk mencapai visi (to be) pribadi.  Ada tiga pilihan alternatif strategi yang dapat digunakan.  Strategi pertama dengan menggunakan segenap kemampuan dan potensi yang kita miliki.  Kedua dengan memperbaiki cara hidup tertentu.  Atau strategi ketiga dengan menerapkan strategi pertama dan kedua secara bersamaan.

Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan setiap individu mahluk sebagai individu yang spesial.   DNA setiap individu memiliki kekhasan.  Tiap individu berbeda dengan individu lainnya.    Karena setiap individu berbeda, maka pasti tiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda.  Jangan khawatir kita tidak memiliki potensi atau kemampuan untuk meraih visi yang sudah ditetapkan.  Potensi kita sangatlah besar (powerhouse), tak tertandingi.  Jika kita bisa menemukan dan mengolahnya.   Kuncinya adalah apakah kita sudah menemukan powerhouse kita dan sudahkah kita bekerja sesuai dengan powerhouse yang  kita miliki ?

Sangat sedikit orang yang mendapatkan kesuksesan secara kebetulan.  Entah itu memenangkan perlombaan, meraih sebuah posisi atau keberhasilan bisnis.  Hampir semua hasil sebuah rancangan.  Sayangnya, hanya sedikit orang yang memiliki rancangan hidup.  Akhirnya jatuh dalam rancangan hidup orang lain.  Jika kita mengetahui persis secara spesifik apa yang inginkan, maka kita dapat memusatkan seluruh talenta dan energi yang kita miliki.  Seperti halnya sinar laser, walaupun sama dengan sinar lainnya akan tetapi sinar laser dapat memotong logam yang sangat keras.

Adam Khoo, mengatakan “rancanglah hidup anda, mulailah dengan membuat tujuan spesifik apa yang diinginkan, buatlah strateginya, segala sesuatu tinggal mungkin terjadi”.

Continue Reading

07 September 2009 ~ 0 Comments

Visi : Kemana kapal mau dilabuhkan

Apabila saat ini posisi kita sebagai karyawan, label apa yang akan kita lekatkan pada perusahaan tempat kita bekerja. Apakah perusahaan tersebut kita anggap sebagai segala-galanya tempat kita mengantungkan hidup kita. Atau sebagai kendaraan untuk menggapai masa depan dan kehidupan kita ? Pilihannya terserah kita.

Ada kisah mengenai kutu yang di hidup di bulu seekor anjing. Suatu ketika ada anak kutu yang berkata kepada ibunya. “Bu, seperti apakah anjing tersebut?”. Dengan penuh sayang ibu kutu berkata pada anaknya, “lho, kita kan hidup dan tinggal dibulu-bulunya. Apakah kamu tidak tahu nak?”. Mendengar jawaban tesebut dari ibunya, anak kutu masih belum puas. “Iya bu, saya tahu. Kita tinggal diatasnya dan setiap hari bersama anjing. Tetapi saya belum mengetahui bentuk anjing itu seperi apa”.

Karena anak kutu terus menerus bertanya, lama-lama ibunya kesal juga. Akhirnya untuk memenuhi keingintahuan anaknya, ditendangnya lah anak kutu, sehingga terlempar ke luar jauh dari tempatnya. Tepatnya terlempar ke lantai dan ke luar dari anjing bulu-bulu anjing. Setelah terlempar keluar, maka anak kutu dengan leluasa melihat kondisi anjing, dimana rumahnya berada di atasanya. Sungguh kaget dan bergembira melihat pemandangan yang selama ini menjadi bahan pertanyaannya. Kaget karena telihatlah anjing tua tempat tinggalnya selama ini adalah anjing yang buruk dan sedang sekarat. Bergembira karena dia mengetahui masa depan kehidupannya. Kemudaian anak kutu tersebut bergumam, “untunglah saya terlempar keluar, sehingga tidak ikut mati bersama anjing tersebut”.

Jangan sampai kehidupan karir kita di perusahaan kita bekerja saat ini kondisinya sama dengan anjing tua yang buruk dan sedang sekarat. Karena kita kuper, atau dengan alasan karena kita loyal kepada perusahaan, karena kita karyawan senior, karena kita senang dengan atmosfer kantor, karena kantor dekat dengan tempat tinggal kita, karena bos kita sangat baik, karena mau kenama lagi saya mencari kerja, dll. Karena alasan-alasan tersebut kita merasa nyaman atau menyamankan diri untuk hidup bersama dengan perusahaan tempat kita bekerja sekarang. Dengan segala alasan-alasan tersebut kita memutuskan untuk terus memilih hidup bersama dengan perusahaan sekarang, bagaimanapun kondisinya perusahaan tersebut. Sungguh berbahaya, jangan-jangan kita memilih tempat hidup yang sudah mulai mengalami kehancuran.

Mulai sekarang, risetlah tempat kita bekerja. Bagaimana kondisinya, bagaimana kehidupannya. Apakah masih layak kita hidup bersamanya ? Ambil strategi apa bila masih layak dan bagaimana jika tidak layak. Namun yang terpenting adalah bukan seberapa baik atau buruk kondisi sekarang kita bekerja, tetapi seberapa cepat perusahaan tempat kita bekerja menjadi jembatan penghubung terhadap impian atau visi hidup kita.

Brian Tracy mengatakan “tak peduli dari mana kita berasal, tetapi pedulilah kemana kita akan menuju”. Brian Tracy mengajarkan pedulilah pada kemana kita akan menuju. Kemana akan kita menuju berarti apa yang ingin kita raih atau miliki atau menjadi apa dalam hidup kita. Inilah yang disebut dengan visi atau impian atau “to be” (dalam istilah kubik leadership). Sudahkah kita perduli dengan masa depan kita kita dengan memiliki “to be” yang jelas ?

Continue Reading

30 August 2009 ~ 0 Comments

Strategi Aksi : Jalan mana yang kita pilih

Andaikan patung selamat datang Jakarta, yang berdiri megah, dikelilingi air mancur dan dilengkapi kerlip lampu warna-warni di kala malam dan menjadi salah satu ikon Jakarta itu sebagai diri kita. Kita berdiri disana sepanjang hari setiap tahun, kerjaanya hanya berdiri mematung dan menyaksikan apapun yang terjadi disekitar bundaran hotel Indonesia. Tentu kita bisa melihat, mendengar dan merasakan perubahan yang amat luarbiasa di sekeliling bundaran tersebut. Menjadi saksi setiap kejadian yang ada di sekitar bundaran Hotel Indonesia. Menjadi saksi setiap pembangunan yang terjadi di Jakarta. Menjadi pengamat lalu lalang mobil yang semakin hari semakin memadat. Terkadang menjadi tempat menyalurkan aspirasi masyarakat. Menjadi saksi pergantian rezim.

Sekarang Hotel Indonesia sudah berubah, Plaza Indonesia sudah berganti wajah, Jakarta sudah beganti-ganti beberapa gubernur dan sedangkan patung selamat datang dengan setia tetap berdiri mamatung menjadi penunggu tetap bundaran. Hari berganti hari tetap berdiri, hujan atau panas tetap menantang, lingkungan sekitar terus bergerak dan berubah. Tapi kita hanya diam, berdiri dan mamatung. Sementara umur semakin meranjak senja, kulit semakin mengkerut, pandangan sudah mulai kabur. Selalu ada ada perubahan disekeliling, tetapi kita hanya bisa diam berdiri mematung dan selalu tekaget-kaget begitu mendengar dan melihat perubahan disekeliling.

Eit, siapa bilang patung Jakarta tidak berubah ? Dia berubah, setiap tahun juga berubah. Selalu ada saja perbaikan, penggantian lampu taman, pembersihan kolam dan perawatan lainnya. Semakin hari semakin cantik, semakin menyenangkan dan memperindah bundaran hotel Indonesia. Tapi perubahan tersebut terjadi, hanya jika ada petugas yang datang dan membuatkan perbaikan atau perawatan. Patungnya tetap berdiri mematung dan menerima apa saja yang dilakukan oleh petugas yang merawatnya. Mau diberi hiasan lampu hijau boleh, diberi lampu sorot bisa, di hiasi air mancur yang meliuk tidak apa-apa. Dia hanya menerima saja, pasrah.

Apakah kita sama seperti patung selamat datang Jakarta ? Lingkungan dimana kita tinggal, disadari atau tidak selalu berubah. Diri kitapun berubah, tambah hari tambah pula usia kita. Lihatlah disekitar tempat tinggal kita, lihat kiri dan kanan perubahan selalu terjadi. Hadirnya tetangga baru, atau bahkan pergi meninggalkan kita. Dilingkungan kantor, berapa banyak teman kantor yang datang dan pergi silih berganti. Sementara kita, berdiri matung dan menjadi saksi perubahan disekitar kita.

Mungkin kita berubah, tetapi kita berubah hanya jika ada orang yang datang dan mengajak kita baru kita bergerak. Sama dengan patung selamat datang Jakarta, kita menyerahkan perubahan kepada orang lain. Kita menyerahkan perubahan diri kita kepada orang yang datang mengajak kita. Jika tidak ada yang mengajak, kita hanya diam, pasif dan berharap. Sadarkah kita mengenai hal ini ?

Apakah kita mau memiliki nasib yang sama seperti patung selamat datang Jakarta ? pasti tidak. Namun sudahkah kita memiliki rencana perubahan untuk diri kita ? Sudahkan kita memiliki blueprint kehidupan dan keluarga kita ?

Jika kita sebagai karyawan apa sikap kita pada perusahaan kita ? Perusahaan tempat kita bekerja kita pasti berubah setiap tahunnya, paling tidak target penjualannya yang naik setiap tahun. Namun apakah value kita akan naik seiring dengan naiknya target penjualan perusahaan ? Otomatiskah value kita naik begitu naik target penjualan perusahaan kita ?

Perusahaan pasti akan berubah. Namun percayalah, kebanyakan perusahaan hanya memikirkan perubahan dirinya. Jarang yang memiliki rencana perubahan bagi karyawannya. Sebagai karyawan, tentu kita tidak memilih berubah hanya jika perusahaan berubah. Tetapi kita memilih akan berubah (sendiri) tidak perduli perusahaan berubah atau tidak.

Continue Reading